| Selasa, 20 Juli 2004 | SEMARANG |
Falsafah Menendang KalengMEMEGANG teguh prinsip kerap membawa seseorang pada kenyataan pahit. Sebab, boleh jadi prinsip yang dipegang berlawanan dengan yang diyakini banyak orang. Tetapi jika seseorang tetap istikomah, bukan tidak mungkin kepahitan akan berujung berkah. "Melawan arus, tampaknya sudah menjadi gawan bayi (bawaan sejak lahir) buat saya," kata Drs Antonius Hadiin Sunarto atau populer dengan sebutan Anton H Sunarto kepada Suara Merdeka, beberapa waktu lalu. Lantas, dia bercerita tentang konfliknya dengan Bustanil Arifin, Kabulog pada era Orde Baru, sebuah keputusan yang membuatnya "tersingkir" dari lembaga itu. Juga perlawanan "kecil-kecilan", semacam keberanian berbeda pendapat dengan keluarga atau pemimpin paroki. Karena keteguhan itu, Anton berhadapan dengan kerikil-kerikil yang mewarnai perjalanan hidupnya. Hal itu yang membuatnya menemukan falsafat yang simpel. "Hadapilah hidup seperti anak menendang kaleng." "Ya, hidup memang seperti anak menendang kaleng. Setiap orang tidak akan pernah tahu apa yang dihadapinya di depan. Namun, kita tetap harus menjalaninya dengan besar hati," katanya. Seperti yang dia tunjukkan malam itu, saat syukuran ulang tahunnya yang ke-60. Dalam acara yang dihadiri sejumlah tokoh Jawa Tengah itu, dia tetap menyunggingkan senyum di bibir. Kendati hatinya waswas, memikirkan MMF Andayaningsih, istri tercintanya yang tergolek sakit di rumah. Memperhatikan Pendidikan Anton H Sunarto adalah lelaki multidimensi. Paling tidak, begitulah yang direkam karib-karibnya, seperti tertulis dalam buku biografi berjudul Setia Memikul Tanggung Jawab dalam Perkara Kecil. Kisah dari para sahabat Anton itu sungguh menyentuh. Ada kisah sahabat yang sedang sakit dan Anton datang membawakan obat, mewariskan mesin ketik untuk membuat skripsi, mengajar tanpa dibayar, hingga solidaritas mencukur rambut sampai botak. Aktivitasnya pun multidimensional. Setelah mengambil pensiun dini dari Bulog pada tahun 1990, dia mengelola Lumen Gentium yang bergerak dalam bisnis penjualan buku rohani. Selanjutnya, dia mendirikan Semarang Corruption Watch. Terakhir, dia berbaris satu saf bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai Demokrat. Pria kelahiran Lasem, Rembang 9 Juli 1944 itu adalah orang yang memberikan perhatian besar pada pendidikan. Robertus Nugroho, putra bungsunya, menyatakan, sedapat mungkin Anton memasukkan anak-anaknya pada sekolah terbaik, Tarakanita. Kendati biayanya tidak murah. Anton bersedia mengorbankan apa pun untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Hasilnya kelima putra-putrinya, Christina, Adriana, Irene, Lucia, dan Robertus sudah mentas dan bergelar sarjana. Bahkan tiga di antaranya menyelesaikan pendidikan hingga pascasarjana. Ya, Anton telah memungut berkah "kaleng" yang ditendangnya. Anak-anak yang mentas dan memberikan kebanggaan pada orang tuanya. (Achiar M Permana-64k) |