logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 SEMARANG
Line

Tanpa Perpeloncoan tapi Menegangkan

  • Siswa Baru Takut Disetrap

SEMARANG-Jarum jam menunjukkan pukul 07.15 WIB, seorang gadis berusia 15 tahun meloncat dari sepeda motor yang dikemudikan ibunya.

Dia tergesa-gesa memasuki halaman SMA Sultan Agung 1 Semarang. Dia bergegas bergabung dengan siswa lain berjejer mengikuti upacara pertama di sekolah baru.

Untuk ukuran siswa kebanyakan, gadis itu berpakaian cukup mencolok. Lihat saja, pakaiannya putih-biru dengan kucir di kiri-kanan menghiasi rambut. Selain itu, caping dari besek bambu dihias kertas karton keliling menyerupai topi lebar dan balon beraneka warna di atasnya. Pundaknya mencangklong tas kresek berisi arem-arem dan minuman botol rasa jeruk dengan segel masih tertutup.

Meski tergesa-gesa, gadis itu tetap terlambat mengikuti upacara masa orientasi siswa (MOS). Tak ayal, dia akhirnya disisihkan dari barisan untuk diberi sanksi.

"Tidak ada sanksi kekerasan," tegas Kepala Sekolah Drs Risno Setiyono.

Menurut dia, tugas-tugas yang dibebankan kepada siswa bertujuan menumbuhkan kreativitas dan pengenalan sekolah.

"Lingkungan SMA sangat berbeda dari SMP, sehingga 348 siswa baru perlu penyesuaian," katanya.

Dalam MOS, kata Risno, siswa baru lebih banyak diajarkan wawasan wiyata mandala agar bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekolah.

"Meski diharuskan berpakaian aneh-aneh, kegiatan lebih banyak dilakukan dalam ruangan karena kami menekankan baca tulis Alquran sesuai dengan napas SMA Sultan Agung," katanya.

Desi (15) mengaku tidak tahu kenapa harus membawa tas dari kardus yang diisi minuman botol 1.950 mililiter dan sebuah alat dapur. "Sebagai siswa baru, mau tidak mau saya harus manut daripada disetrap (diberi sanksi)," katanya seusai mengikuti MOS hari pertama di SMA 1 Semarang.

Menegangkan

Menurut dia, tiga hari ini memang masa-masa menegangkan dan menyulitkan. "Tadi saya berangkat pukul 05.30," katanya sambil melepas kucir rambut dengan tiga warna yang berbeda.

Dia buru-buru pergi karena harus mencari barang tugas untuk MOS, Selasa (20/7) hari ini, pukul 06.00 harus sampai di sekolah. "Tugasnya meski sederhana nggak biasa kita temui di rumah," kata dia tanpa memerinci tugas untuk Selasa.

Adapun Dandy (14) mengaku malu saat harus mengenakan tas dari kardus dan memakai ikat pinggang dari rafia yang dianyam serta membawa tanda pengenal berukuran kurang lebih 15 cm persegi yang ditempeli foto dikalungkan lehernya. "Rasanya seperti orang aneh. Namun, begitu melihat teman lain juga begitu, ya saya merasa tenang," imbuh alumnus SMP 35 itu.

Lydia Wijayanti, Ketua Panitia MOS SMA 1 mengatakan, semua tugas untuk siswa baru bersifat menumbuhkan kreativitas, kegigihan, dan semangat membela nama almamater. "Semua tugas yang kami berikan bukan tanpa dasar. Dari semua tugas itu diharapkan siswa gigih dan ulet."

Dibandingkan dengan di tempat lain, SMA 1 memberlakukan jam masuk sekolah lebih pagi. "Pukul 06.00 semua siswa harus sudah masuk sekolah. Kalau sampai terlambat siswa akan mendapat peringatan atau sanksi," kata Lydia.

Demi disiplin siswa pula, SMA 1 Semarang bekerja sama dengan aparat militer melatih siswa baru dalam peraturan baris berbaris (PBB). "Meski melibatkan tentara, saya jamin tidak ada hukuman fisik," kata Drs Dargito, Sekretaris MOS SMA 1.

Pemandangan yang hampir sama terjadi di SMA 3. Para siswa baru sejak pukul 07.00 berjejer mengikuti upacara pembukaan MOS. Setelah itu siswa duduk tanpa alas di halaman sekolah untuk mengikuti sesi acara selanjutnya hingga pukul 13.30. "Di sini tidak ada perpeloncoan. Seperti yang Anda lihat, pakaian siswa tidak ada yang aneh-aneh," kata Kepala SMA 3 Semarang Drs Sardju Maheri MPd.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Drs Sudjoko menegaskan, pihaknya akan memberi sanksi kepada sekolah yang melakukan MOS di luar batas kewajaran atau penyiksaan fisik. "MOS adalah masa orientasi pengenalan siswa baru terhadap lingkungan baru di sekolah," katanya.

Menurut dia, Dinas Pendidikan telah memberi arahan agar MOS lebih banyak diisi ceramah, pengenalan kurikulum, dan tugas mandiri. "Tugas lebih banyak bertujuan mendidik anak agar mandiri, ulet, dan tanggung jawab," tandasnya. (wid-64e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA