logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 EKONOMI
Line

Dikepung Pesaing Baru

Merpati Masih Jaya di Kawasan Indonesia Timur

MESKI dikepung banyak pesaing baru, maskapai penerbangan milik negara Merpati Nusantara Airlines hingga kini masih eksis terbang di Kawasan Indonesia Timur. Bahkan di musim liburan ini, perusahaan tersebut mampu menjual tempat duduk hingga mencapai 100%.

Demikian dikatakan GM Merpati Region Makassar-Ambon-Jayapura, M Zainuddin dan Manager Marketing Jeffry Wincler kepada Suara Merdeka di Bandara Hasanudin, Makassar, Senin pagi kemarin.

Walau saat ini Bandara Hasanudin Makassar telah diterbangi 12 maskapai penerbangan, yang sebagian di antaranya perusahaan penerbangan baru, Merpati masih unggul di beberapa rute, seperti tujuan Jayapura, Ternate, Gorontalo, dan Balikpapan. "Bahkan ke Jakarta dan ke Surabaya pun, walau tersaingi Garuda Indonesia, maskapai kawakan, dan sejumlah perusahaan penerbangan baru, kami masih tetap eksis," kata M Zainuddin.

Selanjutnya Zainuddin mengemukakan, bahwa yang membuat Merpati bisa bertahan di sejumlah rute di Kawasan Indonesia Timur antara lain karena Merpati sudah dikenal masyarakat di berbagai daerah.

Sejak dulu Merpati sudah memiliki penerbangan perintis ke berbagai daerah di kawasan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan dan Papua.

"Di samping itu, kami juga mengeluarkan kiat mempertahankan layanan seperti saat tarif tiket pesawat masih mahal. Dengan tetap menyediakan sajian makanan dan minuman berkualitas, dengan tidak mengurangi porsi, serta mengutamakan keselamatan," papar M Zainuddin.

Ikut turun

Walau demikian, menurut Manager Marketing Merpati Makassar Jefry Wincler, menyusul "booming" angkutan pesawat udara dalam dua tahun terakhir ini yang membuat tarif naik pesawat menjadi sangat murah, Merpati pun akhirnya ikut menurunkan harga tiket pesawat, terutama untuk rute-rute tertentu. Seperti jurusan Makassar-Jakarta, Makassar-Surabaya, Makassar-Jayapura dan Makassar-Balikpapan.

Alasannya, menurut Jefry, kalau Merpati tidak ikut menurunkan tarif, maka pihaknya akan mengalami kerugian, karena dihantam oleh perang tiket murah yang ditawarkan berbagai perusahaan penerbangan baru.

" Ya, untuk beberapa daerah kami juga ikut menurunkan tarif. Dengan harapan, kursi pesawat tetap terisi minimal 40%. Ibaratnya lewat cara ini, Merpati akan rugi Rp 20 juta ketimbang harus merugi sekitar Rp 50 juta," papar Jefry.

Lewat cara ini pula, Merpati bisa terhindar dari kerugian yang lebih buruk. Pasalnya, sambung Jefry, dengan tetap menjalankan penerbangan reguler ke bebera daerah yang selama ini menjadi trayeknya, di musim liburan, di mana volume penumpang selalu naik, kerugian di saat volume penumpang sedang minim tersebut dapat ditutupi.

Ia menambahkan, bahwa dalam upayanya meningkatkan "performance" perusahaan tersebut, Merpati tetap menempuh langkah konservatif dalam menentukan rute, yang berarti, pihaknya tidak ikut "jor-joran" meramaikan jalur-jalur yang selama ini dianggap gemuk. Sebaliknya, Merpati tetap konsisten dalam menerbangi jalur-jalur yang kurang dilirik perusahaan-perusahaan penerbangan lain seperti ke kota-kota di Maluku, Nusa Tenggara dan Papua.

Karenanya, Jefry menyatakan pihaknya tetap optimistis Merpati bisa meningkatkan pelayanan. Hingga ke depan mereka akan berusaha terbang lagi ke daerah-daerah yang saat ini sudah dihentikan, seperti ke Bau-bau, Maumere, Biak, Sorong, dan Ambon.(Budi Nugraha-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA