| Selasa, 20 Juli 2004 | EKONOMI |
Bisa Dimodifikasi, Harga Selaras KualitasPembuatan Rumah Adat Kudus PotensialRUMAH adat Kudus terkenal hingga ke manca negara. Kini tinggal hitungan jari, kondisi bangunan rumah adat beratap pencu di Kabupaten Kudus dan sekitarnya, yang terbilang lengkap dari sisi bagian-bagian bangunannya maupun ornamennya. Tak terhitung secara jelas, berapa rumah gebyog yang telah berpindah tangan atau terbang dari tempatnya semula, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Rumah adat Kudus yang masih dalam kondisi bagus dan orisinal antara lain yang kini terdapat di Bentara Budaya Jakarta dan Probosutedjan Yogyakarta. Sebuah rumah gebyog yang kualitasnya setara dengan yang di Bentara Budaya dan Probosutedjan, kini masih bisa didapati di selatan kompleks Menara Kudus Kulon. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika pernah mengok rumah yang konon tidak dilepas, meski ditawar seseorang dengan harga Rp 1,5 miliar. "Semenjak sulit untuk mendapatkan rumah gebyog adat Kudus atau gaya pesisiran utara, membuat kami harus berpikir untuk memproduksi sendiri (replika)," kata H Soleh Farid (42). Alasannya, pasar untuk rumah adat tersebut masih sangat potensial, dan konsumen juga bisa memahami bangunan rumah adat yang orisinal makin lama semakin habis. Soleh yang membuka usaha dengan bendera IIQ Antique Kudusan sejak tahun 1998 itu mulai banting setir dengan produk replika rumah adat Kudus sejak akhir 2003 lalu. Jika saat ini masih ada kolektor menginginkan rumah adat orisinal pihaknya mengaku sanggup memenuhi. "Cuma permasalahannya, karena untuk mencari barangnya sudah teramat sulit, harganya pun menjadi makin tinggi." Bertempat di sebelah rumahnya RT 1 RW 4 Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, Soleh mengerahkan 20 tukang saat pesanan ramai. Saat-saat ini pihaknya tengah menyelesaikan gebyog berukir enam dimensi pesanan kolektor di Jakarta, selain gazebo serta bangku/sofa. Disebut ukiran enam dimensi, karena dilihat dari ruang luar maupun dari ruangan dalam, gebyog senilai Rp 150 juta tersebut yang akan digunakan sebagai penyekat ruangan tengah itu, berbentuk sama. "Gampangnya tidak ada istilah mana bagian belakang. Muka atau belakang sama-sama berukir," paparnya. Gebyog tersebut juga telah disesuaikan dengan calon ruangan yang berpendingin (AC). "Karena itu, papan yang berukir enam dimensi di tengahnya dipasang kaca tembus pandang, sehingga udara AC tidak mbrobos (tak bisa menerobos)," urainya. Gebyog yang orisinal hanya berukir tiga dimensi dan tak mengenal ada kaca seperti itu. Modifikasi ornamen maupun ukuran tersebut juga sebagaimana pintu berukir khas Kudusan yang dia kirim ke Prancis beberapa pekan yang lalu. Harga produknya tergantung pada model/desain dan kualitas garapannya serta kualitas kayunya. "Makin rumit modelnya, maka semakin sulit dan lama pengerjaannya," tukasnya. Pihaknya mematok harga gebyog replika mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 7,5 juta/m2, gazebo mulai Rp 7,5 juta/unit, bangku/sofa mulai Rp 2 juta, serta dipan/tempat tidur motif china mulai Rp 7,5 juta. (Prayitno-82) |