logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 EKONOMI
Line

Produknya Lebih Dikenal di Bali

  • Awa, Perajin Tenun Jateng

AWA Bali Craft, boleh saja membusungkan dada. Meski benar-benar tulen perajin asal Pekalongan, Jateng, produknya ternyata justru lebih dikenal khas Bali. Paling tidak, UKM ini bisa merajai Bali Galery, gerai di Bandara Ngurah Rai yang cukup dikenal di kalangan turis-turis mancanegara. Di samping, menjadi pemasok tetap sekitar sepuluh gerai kerajinan yang tersebar di Bali.

Setiap minggu, puluhan ribu lembar kain, seprai, kelambu hingga lampit dikirim ke provinsi sebelah timur Jatim tersebut. Bahkan, salah satu model sarung bantalan kursi yang menurut pengelolanya, Joko Raharjo pertama kali 'ditemukan' Awa, khusus dipesan 300 buah per minggu oleh salah satu galeri.

Jika diperhatikan, ornamen beberapa hasil kerajinan UKM yang telah dirintis sejak 1996 lalu itu memang bercorak Bali.

Seperti misalnya, dominasi motif tetris (kotak-kotak tak beraturan) atau kotak-kotak simetris hitam-putih yang menyimbolkan karakter Bima (Werkudara-Red). Di kalangan konsumen lokal Bali, motif kotak ini sangat digemari lantaran simbol magisnya. Tapi, tidak pada konsumen mancanegara.

Karena konsumen lebih banyak orang asing, motif-motif yang digarap pun lebih disesuaikan pada selera pasar. "Umumnya, turis lebih menyukai motif-motif segitiga, bulat, atau campuran," kata Joko di sela-sela Jateng Ekspo, kemarin.

Slogan 'back to nature' bagi mereka pun tampaknya juga bukan omong kosong. Buktinya, semua produk Awa berbahan dasar alami, yaitu serat-serat eceng gondok, rotan, pelepah pisang, akar wangi sampai bekas kepompong ulat sutra.

Sayangnya, tidak setiap saat pihaknya menerima bahan yang justru digemari konsumen. Akar wangi misalnya, beberapa waktu terakhir terpaksa sulit ditemui lantaran terserap ke pabrik minyak akar wangi di Garut. Padahal, kualitas akar wangi Garut terbilang lebih bagus dari pasokan Gunung Kidul. "Ya, untungnya ada beberapa pemasok yang loyal ke kami. Selain menjual ke pabrik, sebagian barang dikirim ke Pekalongan," tukasnya.

Sebagai perusahaan keluarga, Joko menuturkan modal awal yang digunakan kakaknya, Ali M, untuk merintis usaha hanya Rp 10 juta. Tapi dengan bekal kepercayaan, pabrik yang berpusat di Pringlangu Pekalongan ini akhirnya bisa melebarkan sayap ke Semarang dan Kuta, Bali. Selain gerai pamer di dua kota ini, pihaknya juga aktif mengikuti pameran-pameran, salah satunya Jateng Ekspo 2004.

Di samping pasar lokal, Awa telah menembus pasar luar negeri seperti Jepang, Thailand, Prancis dan Kanada. Empat negara ini, kata dia, tetap menjadi pelanggan setia bahkan ketika isu teroris beberapa waktu lalu menghantui Indonesia.

Beberapa kerajinan diperdagangkan dalam harga yang relatif murah. Lampit ukuran besar dan kecil misalnya, dijual Rp 75.000 dan Rp 200.000. "Untuk turis asing dan domestik, harga kami tetap," tukasnya. (Renjani Puspo Sari-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA