logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 EKONOMI
Line

Biaya "Uang Siluman" Lebih Membebani Dunia Usaha

JAKARTA- Meskipun kondisi suku bunga perbankan belakangan makin menunjukkan kecenderungan turun, diperkirakan tidak terlalu signifikan untuk menggerakkan perekonomian. Hal ini disebabkan masih tingginya biaya "uang siluman" yang lebih membebani dunia usaha dibandingkan faktor suku bunga.

Hal tersebut dikemukakan praktisi perbankan, Pardi Kendy, kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/7), terkait dengan makin turunnya suku bunga perbankan.

Pardi menilai penggunaan suku bunga sebagai tolok ukur bagi perkembangan dunia usaha selama ini sering dikaburkan, seolah-olah faktor itu sebagai satu-satunya yang menentukan.

"Biaya lain yang lebih besar dari suku bunga sebenarnya banyak. Seperti biaya uang siluman, sebetulnya bisa empat - lima kali lebih besar dari suku bunga," kata Direktur Bank Buana Indonesia (BBI) ini.

Dalam kaitan itulah, ketika ditanyakan tentang tingkat suku bunga yang ideal Pardi menunjuk puncak perkembangan ekonomi di tanah air yang terjadi di era 1986 hingga 1989-an. Pada saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai angka 7% per tahun. Padahal ketika itu suku bunga masih berada pada kisaran 20% per tahun. Oleh sebab itu Pardi berpendapat, yang ideal bagi dunia usaha sekarang ini bukan berapa besarnya tingkat suku bunga. Sebab suku bunga bukan satu-satunya yang menentukan.

"Kalau semua sudah kondusif sekali, suku bunga penting. Seperti di negara lain, gerakan 0,25% saja akan terasa. Kalau sekarang belum," imbuhnya.

Jadi sebenarnya, lanjut Pardi, yang harus diupayakan bukan hanya dari sisi suku bunga. Sebab untuk kondisi sekarang suku bunga perbankan sudah mencatat angka terendah. Yang lebih penting diupayakan pemerintah adalah bagaimana mengikis biaya-biaya yang tidak terlihat, seperti biaya siluman. Karena hal itu jauh lebih menolong dibanding penurunan suku bunga.

"Untuk ini memang harus ada kerja sama dari pihak pemerintah maupun legislatif. Karena kalau nggak, percuma. Suku bunga rendah, tapi tidak berarti apa-apa untuk perkembangan dunia usaha." (A20-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA