logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 EKONOMI
Line

Rupiah dan Saham Kembali Tertekan

JAKARTA- Aksi ambil untung (profit taking) masih berlanjut dalam perdagangan mata uang dan saham, kemarin. Selain itu sangat minim adanya sentimen positif yang mampu mendongkrak rupiah dan Indeks Harga Saham (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Akibatnya rupiah kembali melorot 45 poin berada di posisi 8.950/dolar AS. Sementara Jumat pekan lalu berada di level Rp 9.051/dolar AS.

Kondisi tak jauh berbeda dialami perdagangan saham di BEJ. IHSG tertekan 1,882 poin berada di posisi 754,273. Indeks LQ45 (45 saham terlikuid) juga turun 0,033 poin menjadi 166,453. Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,550 poin menjadi 127,716. Indeks Papan Utama (MBX) turun 0,841 menjadi 205,161, sementara Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 0,155 poin berada di level 170,888.

Perdagangan awal pekan Senin kemarin terjadi perpindahan saham sebanyak 8.565 kali transaksi meliputi 1.952,284 lot saham senilai Rp 398,168 miliar. Tercatat ada 32 saham yang harganya naik, 46 saham anjlok harganya, dan 305 saham harganya tetap.

Situasi Keamanan

Seorang analis dari Mitra Investdana Sekurindo memperdiksikan Indeks pekan ini diperkirakan akan lebih banyak terpengaruh oleh kondisi situasi keamanan dan politik dalam negeri yang belum kondusif serta aksi korporasi emiten. Karena itu diperkirakan IHSG masih bergerak fluktuatif dengan support di level 730 dan resistance 800.

Sebaiknya pelaku pasar lebih selektif memilih saham dengan mencermati perkembangan kecenderungan saham. Saham-saham unggulan diperkirakan akan menjadi pemicu naiknya IHSG, terutama saham-saham sektor tambang, telekomunikasi, rokok, farmasi, semen, perbankan, makanan, dan grup ASII.

Berdasarkan catatan perdagangan saham di BEJ pekan lalu tidak terlalu bergairah, Karena karena nilai transaksi tertinggi hanya Rp 784 miliar dan terendah Rp 408 miliar. IHSG selama tiga hari perdagangan berturut-turut terkoreksi hingga 16,824 poin. Indeks tertinggi di level 757,575 dan terendah di level 744,316. Kondisi ini dipengaruhi oleh situasi makro dunia serta sepinya sentimen positif dari emiten yang mampu mengangkat indeks. (wa-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA