| Kamis, 15 Juli 2004 | SALA |
Bantuan Air Bersih Harus Ada Permohonan CamatBOYOLALI- Tiga puluh tiga desa di Kecamatan Musuk, Juwangi, Wonosegoro, dan Kemusu, Kabupaten Boyolali, dikategorikan merupakan daerah rawan kekeringan. Setiap musim kemarau, desa-desa itu pasti kekurangan air bersih. Bantuan air bersih biasanya diberikan pada awal atau pertengahan Juli. ''Tetapi sampai sekarang belum ada satu pun desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih. Itu berarti warga masih bisa mengatasi kebutuhan air bersih,'' kata Kasubag Pemberdayaan Perempuan dan Kesehatan, Drs Heru Sangsongko, kemarin. Kasubag di Bagian Sosial itu setiap musim kemarau mengedrop air bersih. Meski sampai sekarang belum mengedrop air bersih, pihaknya sejak satu bulan lalu sudah melakukan pendataan dan langsung turun ke lapangan. Dari pemantauannya, kebutuhan air bersih masih mencukupi. Tetapi ada pula warga yang mulai ngangsu ke sumber mata air yang berjarak relatif jauh. Menurut Heru, droping air bersih dilakukan berdasarkan permohonan warga melalui desa dan diteruskan ke camat. Karena itu setiap akan memberikan bantuan, dia harus melihat dulu apakah ada permohonan dari camat. ''Tahun sebelumnya kami pernah ditolak warga, karena mereka merasa masih bisa memenuhi kebutuhan air bersih,'' katanya. Perubahan APBD Heru manuturkan, anggaran untuk droping air bersih hingga sekarang belum ada. Diperkirakan dana baru cair setelah perubahan APBD 2004 ditetapkan akhir Juli. Meski demikian jika suatu saat warga membutuhkan, pihaknya sudah siap. Ada dana lain yang bisa digunakan untuk mengedrop air bersih. Tiga puluh tiga desa yang rawan kekeringan tersebut paling banyak berada di Kecamatan Musuk. Paling tidak, ada sepuluh desa yang kering dan rawan air bersih. Di Kecamatan Juwangi hanya empat desa yang rawan. ''Namun terletak paling jauh dari Boyolali. Jika air bersih diambilkan dari umbul Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, biaya operasional cukup tinggi,'' ungkapnya. Sudah dua hari, Selasa dan Rabu kemarin Boyolali diguyur hujan lebat. Hal itu menyebabkan bak penampungan dan kolam di berbagai desa Kecamatan Musuk dipenuhi air. Peternak yang selama ini kesulitan memandikan ternaknya juga mulai membersihkan ternak. Menurut peternak, hujan lebat dua hari cukup untuk merawat atau memandikan ternak. Sebelumnya ternak terpaksa tidak dimandikan. Air bersih diutamakan untuk keperluan minum sapi. ''Saat ini kami masih bisa mengatasi kebutuhan air. Tetapi jika sampai akhir Juli tak ada hujan lagi, pemerintah harus mengedrop air bersih,'' kata Sudi, peternak di Desa Musuk. (shj-49s) |