logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juli 2004 SALA
Line

Diterima Sekolah, Sedih Mikir Biaya

SUASANA gembira mewarnai wajah para orang tua dan anaknya yang diterima di sekolah-sekolah favorit. Mata mereka berbinar saat menerima amplop berisi pengumuman yang menyatakan diterima. Bahkan tidak jarang, ada yang berteriak spontan, "Hore, aku diterima,".

Namun di sisi lain, ada yang murung saat menerima amplop yang menyatakan anaknya tidak diterima. Dengan muka masam, mereka segera berlalu dan menuju ruang tertentu yang digunakan untuk pengambilan berkas pendaftaran, terutama STL (Surat Tanda Lulus). "Yah, nasibmu memang harus sekolah di swasta," kata salah seorang di antara mereka.

Begitulah suasana pengumuman penerimaan siswa baru (PSB) SMA yang diumumkan serentak Rabu kemarin. Pengumuman dilaksanakan siang hari pukul 13.00, karena pagi sebelumnya, seluruh sekolah negeri digunakan untuk tes masuk perguruan tinggi.

Banyak yang masih penasaran saat anaknya diterima di sekolah level kedua, bukan di sekolah terfavorit yang dituju. Karena itu, mereka masih melihat pengumuman di SMA yang sebenarnya dipilih untuk pertama kali, terutama SMA Negeri 1 Solo.

Ny Yayuk yang anaknya diterima di SMA Negeri 4 menyempatkan diri menengok pagu nilai yang diterima di SMA 1. "Wah, untung saya segera menarik berkas pendaftaran anak saya. Kalau tidak, mungkin harus ke swasta, karena nilainya tidak nututi," katanya.

Pagu nilai yang diterima di SMA 1 memang tinggi. Untuk dalam kota, pagu terendah 42,9, sedangkan luar kota, pagunya 43. "Anak saya hanya 42,67, untung segera saya tarik dan saya masukkan ke SMA 4. Di sana masih yang tertinggi, untuk siswa asal luar kota," jelasnya.

Namun yang merana pun ada. Sutarno dari Klaten, terpaksa menyekolahkan anaknya ke swasta karena ditolak di SMA 1. Nilai anaknya ternyata lebih rendah. Dia memang sedikit berspekulasi. Saat tahu nilai anaknya sedikit di bawah nilai terendah siswa yang mendaftar sesuai pagu penerimaan SMA 1, dia masih nekad tidak menarik bekas.

"Saya memang spekulasi, mungkin saja di atasnya ada yang menarik berkas sehingga anak saya bisa diterima. Eh, ternyata tidak. Ya sudah, meski sebenarnya kalau di SMA lain bisa diterima," katanya menambahkan, anaknya Aan disekolahkan ke swasta.

Mikir Biaya

Hanya saja di balik kegembiraan para orang tua, mereka mulai khawatir tarikan yang dilakukan oleh sekolah. Orang tua yang anaknya diterima di SMA 1, sudah langsung dikumpulkan di aula untuk menerima pengarahan dari Komite Sekolah dan Kepala Sekolah.

Isinya tentu saja terkait dengan rencana pembangunan beberapa ruang dan penambahan fasilitas laboratorium, beberapa kelas, ruang kepala sekolah dan wakil, serta beberapa fasilitas lainnya.

Barangkali nasib orang tua zaman sekarang memang harus begitu. Anak mencari sekolah, ribut ikut mendaftar. Diterima di sekolah, mulai mikir mencari utangan. (Joko Dwi Hastanto-80).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA