logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juli 2004 SALA
Line

Penobatan Paku Buwono XIII

Rapat Putuskan 10 September

KERATON SURAKARTA- Hari H penobatan KGPH Hangabehi sebagai SISKS Paku Buwono XIII yang semula diusulkan 30 Juli ini, oleh rapat Forum Komunikasi Putra-Putri (FKPP) almarhum Sinuhun Paku Buwono XII akhirnya memutuskan mengambil tanggal 10 September. Penetapan hari Jumat Kliwon, 25 Rejeb sebagai hari terbaik untuk penobatan, sesuai dengan rekomendasi forum abdi dalem yang digalang KRMH Rudy Subanindra dan arahan paguyuban kerabat sentana di Jakarta.

"Kalau soal waktu, usulan putra-putri dalem awal September. Kami tidak tahu-menahu soal penetapan jadwal. Kami lebih fokus pada mekanisme dan figur yang akan menjalani tahapan-tahapan itu, hingga menjadi pimpinan baru di institusi keraton ini kelak," tegas KRMH Rudy Subanindra kepada Suara Merdeka, belum lama ini.

Keputusan soal tanggal penobatan 10 September itu, adalah penetapan final setelah KGPH Kusuma Yuda menyebutkan bahwa tanggal 30 Juli merupakan usulan yang masih dibahas dalam rapat-rapat yang berlangsung setelah Sabtu, 10 Juli. Adik kandung KGPH Hangabehi itu hanya menyebutkan, pilihan hari baik tersebut sangat longgar karena berada di rentang waktu setelah 40 hari berkabung yang habis 17 Juli dan tidak lebih dari 100 hari setelah SISKS mangkat, 11 Juni.

GRAy Koes Moertiyah yang dimintai konfirmasi juga membenarkan upacara penobatan Pangeran Adipati Anom menjadi SISKS Paku Buwono XIII dipilih 10 September. Menurutnya, waktu yang diputuskan itu sudah tepat karena sudah habis masa berkabung dan masih dalam hitungan 100 hari.

"Soal waktu, sudah tepat. Yang penting, semua bisa menerima. Namun yang lebih penting lagi adalah penyiapan busana kebesaran yang akan dikenakan saat penobatan, karena itu tugas saya," tegas putri dalem yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Perihal busana dimaksud, istri KP Edy Wirabhumi tersebut menyebutkan pihaknya kini tengah mencari-cari model busana kebesaran yang paling serasi untuk dikenakan KGPH Hangabehi. Yaitu saat siniwaka atau duduk di singgasana ataupun saat melakukan kirab keliling kota, beberapa saat seusai upacara penobatan.

Menurutnya, busana yang akan dikenakan ada dua. Yaitu sikepan ageng, dodot ageng motif Parang Kusuma, ngumbar kunca motif Parang udan liris, dan mengenakan penutup kepala kuluk mathak saat penobatan.

Kemudian berganti baju takwa dan kain serupa tetapi berpelisir bordir biru atau sikepan ageng, dodot Parang Barong saat berada di Sitinggil.

"Beberapa setelan atau pasangan kelengkapan busana itu baru kami cari modelnya dari koleksi busana yang pernah dipakai SISKS Paku Buwono X dan Paku Buwono XI. Kami ingin memadukan agar tetap anggun, punya nilai estetika tinggi, tetapi juga trendi," ungkap pimpinan Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu.

Sabtu nanti keraton akan menyelenggarakan wilujengan peringatan 40 hari meninggalnya SISKS Paku Buwono XII. Menurut Wakil Pengageng P1arentah Keraton, GPH Puger, Bersamaan dengan itu diadakan pembentukan panitia upacara penobatan.

Dalam wilujengan tersebut, selain tahlil dan zikir, FKPP berencana melanjutkan ritual dengan penjelasan ke media secara resmi melalui juru bicara yang ditunjuk.

Antara lain perihal pelaksanaan upacara penobatan. Dalam ritual itu, keluarga mengundang tamu berbagai lapisan kurang lebih 2.000 orang.

"Bersamaan dengan wilujengan dan sesaji pepak ageng, keblat papat lima pancer, Anda bisa mencari jawab atas segala persoalan yang mengemuka di keraton akhir-akhir ini. Karena di situ ada konferensi pers," pinta GPH Puger, kemarin.(won-80s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA