| Kamis, 15 Juli 2004 | SALA |
Peserta SPMB di Regional 2 MerosotKOTA- Peserta Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Nasional di wilayah Regional 2 pada 2004 ini merosot 11,2% dari tahun sebelumnya. Satu-satunya kota yang jumlah pendaftarnya naik hanya di Palangkaraya, Kalteng, yakni 6%. "Akan tetapi, angka riil dari persentase kenaikan itu relatif kecil, tahun lalu 534 orang kini menjadi 620 orang," kata Ketua SPMB Regional 2 Prof Ir Eko Budiardjo MSc di sela-sela memantau ujian SPMB di Solo, kemarin. Adapun enam kota lainnya yang turun adalah Semarang yang pada 2003 pesertanya 16.231 orang pada 2004 ini turun menjadi 15.660 orang (3,4%), Solo turun dari 14.270 menjadi 12.955 orang (9,5%), Yogyakarta dari 20.890 menjadi 16.065 orang (25%), dan Purwokerto dari 6.102 menjadi 5.922 orang (3%). Dua kota dalam cakupan Regional 2 yang berada di luar Jawa juga merosot, yaitu Banjarmasin dari 3.460 menjadi 3.145 orang (9%) dan Samarinda dari 3.880 menjadi 3.759 orang (4%). "Jika ditotal, peserta SPMB Nasional di Regional 2 merosot, dari tahun lalu 65.475 menjadi 58.126 orang pada tahun ini. Trennya memang menurun. Tahun lalu persentase penurunan 16%, tahun ini 11,2%," ujarnya. Didampingi Rektor UNS Prof Dr H Syamsulhadi SpKJ, dia mengemukakan, penurunan tajam di Yogyakarta karena UGM mencuri start dengan membuka ujian masuk lebih awal. Akibatnya, banyak lulusan setingkat SMA yang mengikuti program itu. "Solo yang dekat dengan Yogya juga terkena imbas tersebut." Meski demikian, PTN-PTN di Jawa yang menyelenggarakan SPMB nasional tidak kekurangan mahasiswa baru. Sebab, lanjut dia, antara daya tampung dan pendaftar masih lebih banyak pendaftarnya. Adapun beberapa PTN di luar Jawa, menurut pengamatannya, ada yang jumlah pendaftarnya tidak memenuhi daya tampung. Prof Syamsulhadi menganalisis, kemungkinan penurunan itu karena masyarakat realistis untuk lebih mendekatkan diri pada pasar kerja serta mengukur kemampuan akademik dan finansialnya. Jadi, mungkin banyak juga yang memilih program diploma atau langsung bekerja setamat SLTA. Identitas Dobel Pada hari pertama ujian kemarin, Ketua SPMB Regional 2 yang juga Rektor UNS beserta jajaran stafnya juga memantu ke lapangan. Pantuan itu antara lain mengecek identitas dobel peserta yang jumlahnya 20-an orang. Identitas dobel itu maksudnya, peserta membeli dua formulir saat pendaftaran. "Akan tetapi saat dicek, dobel formulir itu tidak ada yang dimanfaatkan untuk kasus perjokian. Hanya mungkin karena formulir hilang atau rusak, kemudian seseorang membeli formulir lagi," ungkap Ketua Panitia SPMB di UNS Drs Ravik Karsidi MS didampingi Sekertaris Eksekutif Drs Sukirno MS. Di antara peserta, terdapat tiga peserta penyandang cacat yang terdiri atas dua penderita polio dan satu cacat mata. Namun, mereka tidak bersedia diperlakukan khusus. Astri Purspita Sari yang hanya bisa melihat pada jarak tiga sentimeter juga keberatan dibantu membacakan soal. Kepada Prof Eko yang menemuinya di SMP Kanisius 2, dia menyatakan ingin berusaha sendiri menyelesaikan soal ujian. Sementara itu, seorang peserta dari Ngawi, Iis Maryani, dilaporkan mengalami kecelakaan di Sragen saat akan menuju ke tempat ujian. Menurut penuturan Ravik, pagi kemarin keluarganya memberitahukan secara tergesa-gesa lewat telepon kepada panitia di sekretariat UNS. "Korban di rumah sakit (RS) Sragen, kami sarankan dibawa ke RS di Solo saja, untuk mengikuti ujian. Akan tetapi saat petugas mengecek ke RS di Solo tidak ada, dan di sekretariat UNS juga tidak ada. Padahal, kami tidak bisa melacak lagi karena teleponnya tergesa-gesa dan tidak menghubungi lagi. Hingga ujian berlangsung, dia tidak hadir," kata Ravik. (D11-20j) |