logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juli 2004 PANTURA
Line

Bursa Kerja SMK Efektif Salurkan Alumnus

PASAR kerja yang makin menyempit ternyata menjadi pemikiran para pengelola Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ini bisa dipahami karena hampir sebagian besar orang tua menghendaki setelah anak mereka lulus sekolah dapat langsung memperoleh pekerjaan.

Persaingan pasar kerja dengan berbagai persyaratan yang ketat membuat SMK Karya Bhakti Brebes tak mau berdiam diri. Sekolah yang berlokasi di Jalan Taman Siswa 1 kota Brebes berusaha menginovasi diri untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Mereka berusaha menyiapkan tenaga terdidik siap pakai pada jurusan Akuntansi, Pemasaran, dan Sekretaris. Pada tahun pelajaran baru 2004/2005, sekolah kejuruan tersebut membuka jurusan baru, yaitu Teknologi Informatika dan Komunikasi.

Apa yang melatarbelakangi pembukaan jurusan baru? Kepala SMK H Fatoni BSc mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan pasar kerja. Menurut penuturan dia, industrialisasi dan teknologi informasi sekarang menjadi kebutuhan masyarakat karena tuntutan perubahan begitu cepat seiring dengan laju pembangunan. Melihat prospek ke depan yang cerah, dia berusaha menyiapkan tenaga terdidik tingkat menengah yang terampil dan memiliki kompetensi serta profesional.

''Jurusan Teknologi Informatika dan Komunikasi sangat ideal pada era globalisasi ini. Sebab, peluang kerjanya juga cukup tinggi di bidang software house, rental komputer, jasa internet, operator komputer pada kantor pemerintah dan perusahaan,'' paparnya, kemarin.

Pembukaan program baru ini sejalan dengan rencana Departemen Pendidikan Nasional yang akan memasukkan teknologi informatika pada kurikulum SMK.

Selain menyiapkan tenaga terdidik, Fatoni yang pernah menjabat Kepala Departemen Koperasi Kabupaten Tegal dan Pekalongan juga mendirikan bursa kerja khusus (BKK) di sekolahnya. Bursa kerja ini secara khusus bertugas membuka jaringan pasar kerja dengan perusahaan besar seperti Toyota (Astra), Samsung, Sharp, dan mempunyai hubungan langsung dengan pengerah tenaga kerja profesional di Jakarta. Langkah ini tidak lain agar para lulusan tidak menganggur setelah menyelesaikan pendidikan.

''Yang jelas, dari hasil kerja sama dengan berbagai perusahaan itu sudah ratusan anak didik kami yang lolos seleksi pekerjaan,'' tandasnya.

Dia mengemukakan, agar tugas BKK tidak berbenturan dengan tugas pembelajaran siswa, pihaknya menunjuk tenaga ahli nonguru. Mereka secara khusus akan membuka jaringan dengan perusahaan, sehingga ketika harus mencari informasi pasar kerja dapat lebih leluasa dan penanganan pun lebih profesional. ''Untuk menangani BKK kami sengaja merekrut tenaga ahli yang menguasai pasar kerja,'' ungkapnya.

Di Kota Telur Asin, SMK Karya Bhakti termasuk sekolah yang memiliki jumlah siswa banyak. Pada 2003, sesuai dengan data tercatat 1.165 siswa dengan jumlah kelas 27 lokal dan tenaga pengajar 60 orang. Proses pendidikan yang diterapkan adalah kurikulum dengan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi yang berorientasi pada keterampilan atau kecakapan. Untuk mendukung proses pembelajaran siswa, sekolah menyiapkan laboratorium bahasa, komputer, mengetik, perkantoran, dan pertokoan.

Khusus untuk pertokoan, sekolah ini membuka koperasi sekolah yang menyediakan berbagai kebutuhan sekolah. Selain itu untuk tempat praktik kerja, dibuka sebuah usaha pertokoan modern di kompleks pertokoan Jalan Sudirman. Toko ini menyediakan peralatan komputer dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan elektronik. ''Saya bikin toko selain sebagai bentuk usaha sampingan juga tempat praktik siswa,'' ujarnya.

Bekal lain untuk menyiapkan tenaga terdidik adalah dengan membuka program unggulan, Bahasa Mandarin, dengan menjalin kerja sama dengan sebuah lembaga di Kota Tegal. Program ini ternyata sangat membantu para siswa memperoleh lapangan kerja baru.

Menelisik perjalanan sekolah ini, sebenarnya berawal dari sebuah ide tidak adanya sekolah kejurusan pada 1971. Beberapa tokoh pendidik kemudian memanfaatkan sebuah bangunan Gedung Nasional menjadi tempat belajar siswa. ''Jumlah muridnya waktu itu sedikit sekali. Mereka yang mau belajar di sini pada umumnya personel PNS dan TNI/Polri. Namun dalam perkembangan 30 tahun kemudian, menjadi sekolah favorit yang menjadi pilihan masyarakat,'' paparnya.(Wahidin Soedja-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA