| Kamis, 15 Juli 2004 | WACANA |
Fragmentasi Politik SantriOleh: Abdul Mu'tiMESKIPUN hasil akhir pemilihan presiden belum diumumkan, sudah dapat dipastikan pemilihan presiden akan dilanjutkan pada putaran kedua. Pada saat artikel ini ditulis (12/7), belum ada satu pun pasangan yang memperoleh 50 persen suara. Karena itu, sesuai dengan ketentuan pasal 66 dan 67 Undang-Undang nomor 23 Tahun 2003, dua pasangan yang memperoleh suara terbanyak berhak mengikuti pemilihan presiden putaran kedua. Dari total 90.917.469 suara sah (sementara), pasangan SBY-Kalla memperoleh 30.481.887 (33,53%), Megawati-Hasyim 23.827.206 (26,21%), Wiranto-Salahuddin 20.219.312 (22,24%), Amien Rais-Siswono 13.573.138 (14,93%), dan Hamzah-Agum 2.814.480 (3,10%). Dengan sisa suara yang ada, sekitar 40 juta, besar kemungkinan pasangan SBY-Kalla dan Mega-Hasyim akan lolos pada putaran kedua. Tampilnya pasangan SBY-Kalla dan Mega-Hasyim dalam babak final pemilihan presiden memang tidak terlalu mengejutkan. Dalam posisinya sebagai the incumbent president, Megawati memiliki peluang dan akses politik yang sangat kuat. Sekalipun perolehan suara PDI Perjuangan menurun dari 35.689.073 (33,76%) pada Pemilu 1999 menjadi 21.026.629 (18,53%) pada Pemilu 2004, dukungan terhadap Megawati tetap tinggi. Perolehan suara Mega-Hasyim terpaut 386.323 suara lebih besar dari partai yang mendukungnya: PDIP (21.026.629), ditambah dari PDS (2.414.254) menjadi 23.440.883. Yang sangat menakjubkan adalah meningkatnya dukungan terhadap SBY. Dihitung dari koalisi tiga partai yang mencalonkan SBY-Kalla, berdasarkan hasil pemilu legislatif lalu, mempunyai jumlah suara 12.849.952. Sementara perolehan suara SBY-Kalla saat ini 30.481.887, naik sebesar 17.631.935 suara. Dilihat dari partai yang mendukungnya, SBY tidak memiliki basis massa tradisional yang memilih karena ikatan ideologi keagamaan atau ideologi politik yang militan. Sebagaimana survei LSI dan LP3ES, mayoritas pemilih perempuan memilih SBY karena gagah, cool, calm, dan santun. Fragmentasi Di samping faktor-faktor tersebut, melonjaknya dukungan terhadap SBY-Kalla juga disebabkan oleh fragmentasi pemilih santri. Pemilih santri adalah mereka yang memiliki latar belakang dan komitmen keagamaan Islam kuat. Pemilih santri berasal dari ormas-ormas Islam besar seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan lain-lain. Dilihat dari afiliasi partainya, pemilih santri tersebar dalam tujuh partai politik: PKB, PPP, PBR, PBB, PPNU, PAN dan PKS. Lima dari tujuh partai berasas Islam, sedangkan dua yang lainnya, PKB dan PAN, berasaskan moral agama. Meskipun basis dan asasnya relatif sama, dalam pemilihan presiden 5 Juli, partai-partai santri terfragmentasi menjadi empat kelompok. PPP mendukung pencalonan Hamzah-Agum, PBB mendukung SBY-Kalla, PKB mendukung Wiranto-Salahuddin. Pasangan Amien Rais-Siswono mendapat dukungan dari PAN, PBR dan PKS. Pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa partai-partai Islam atau kaum santri sangat sulit bersatu? Pertama, politik Islam memiliki kontradiksi internal yang cukup tajam. Olivier Roy (1996) dalam The Failure of Political Islam menyebutnya sebagai "intellectual failure". Masyarakat muslim menyadari betul pentingnya politik sebagai instrumen untuk mengejawantahkan Islam dalam realitas kebangsaan-kenegaraan. Tetapi, cita ideal politik Islam seringkali kandas karena perbedaan pandangan politik para elite intelektual yang tidak dapat dipadukan. Ikhtilaf politik ini dapat menimbulkan ekstrimitas dan militansi berlebihan dari para pendukung partai Islam terhadap partai lainnya. Ekstrimitas politik dapat dilihat dari sikap dan pandangan pendukung PBB dan PKS terhadap PAN serta massa fanatik PPP terhadap PKB. Sebab kedua adalah kepentingan politik kekuasaan. Merebaknya partai-partai Islam, menurut Azyumardi Azra (2002) lebih dimotivasi hawa nafsu kekuasaan kalangan elite politik muslim dari pada motif-motif yang murni untuk kepentingan Islam. Bergabungnya Yusril Ihza Mahendra ke kubu SBY-Kalla, tampaknya lebih disebabkan oleh keinginan mendapatkan kekuasaan dibandingkan perjuangan Islam. Selama masa kampanye, PBB -pimpinan Yusril- adalah salah satu partai yang getol memperjuangkan formalisasi syariat Islam. Sedangkan partai Demokrat, sebagaimana ditegaskan SBY beberapa kali, tidak akan memberlakukan syariat Islam di Indonesia. Bagaimana dua tokoh dari dua ideologi yang berbeda bisa bersatu? Jelas karena kekuasaan. Fragmentasi politik santri itulah yang menjadi salah satu faktor kemenangan SBY. Meskipun tidak berasal dari kalangan santri, SBY mendapatkan suara terbanyak di Jawa Timur. Data sementara, SBY memenangkan pemilihan di 22 kabupaten. Padahal, dalam Pemilu legislatif 1999 dan 2004, PKB mendominasi pemilihan di Jawa Timur. Logikanya, pasangan Wiranto-Salahuddin yang didukung koalisi PKB-Golkar akan menang di Jawa Timur. Mengapa justru SBY-Kalla yang menang? Pertama, karena faktor tersingkirnya Gus Dur dalam pencalonan presiden. Kedua, karena fragmentasi elite NU yang terbagi ke dalam pasangan Wiranto-Salahuddin dan Mega-Hasyim. Dengan prinsip tiji tibeh (mati satu, mati semua), pemilih santri di Jawa Timur memberikan suaranya ke SBY-Kalla. Trend Putaran Kedua Kecuali PBB, partai santri praktis tidak mempunyai jago pada putaran kedua. SBY dan Mega adalah dua pasangan yang sama-sama tidak mendapatkan "restu" dari kaum santri. Megawati divonis dengan fatwa kiai yang mengharamkan presiden perempuan. SBY disinyalir didukung oleh kekuatan non-muslim dan Amerika. Amien Rais yang dijagokan oleh mayoritas partai Islam dan Ormas keagamaan tidak lolos. Karena itu, kaum santri sesungguhnya sudah tidak lagi memiliki pilihan. Dalam kondisi seperti ini, lagi-lagi, partai santri akan mengalami fragmentasi. Para elite akan melakukan langkah "pragmatis" yang bisa menjamin keberlangsungan karier politik mereka. Dengan orientasi kekuasaan, para elite akan mendukung pasangan yang kemungkinan menang. Ke mana mereka? Mayoritas pemilih Amien Rais-Siswono, terutama dari kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sudah mengisyaratkan golput. AMM adalah kalangan yang sangat idealis. Bagi mereka, Amien Rais adalah harga mati: "Amien Rais, atau tidak sama sekali!" Amien Rais sendiri tampaknya tidak akan mendukung salah satu dari dua pasangan yang lolos. Sikap Amien Rais ini akan memperkuat barisan oposisi di Muhammadiyah. Kalaupun pada akhirnya, karena kepentingan kekuasaan, PAN bergabung ke salah satu pasangan, sikap golput AMM tidak akan goyah. PKS tampaknya cenderung ke pasangan SBY-Kalla. Meskipun tidak mendapatkan dukungan mayoritas, pasangan SBY-Kalla mendapatkan dukungan dari sebagian Majelis Syuro. Kemenangan SBY-Kalla di DKI Jakarta adalah isyarat dukungan PKS. Dalam Pemilu legislatif, PKS menang di DKI Jakarta. Jika warga PKS solid, tentunya pasangan Amien-Siswono yang menang. Menjelang pilpres, SBY dan Hidayat Nurwahid sudah kelihatan runtang-runtung. Bahkan, pernah disebut akan berpasangan. Sikap oposisi PKS dan keinginan membentuk pemerintahan baru yang segar bisa diartikan penolakan dukungan terhadap Megawati. Ke mana PBR, PKB dan PPP? Mayoritas pemilih di tiga pertai tersebut adalah warga nahdliyyin. Selama ini, sikap politik ketiganya hampir selalu berbeda. PBR lahir karena perpecahan di PPP. Dalam dua kali pemilu, massa PKB dan PPP sempat terlibat konflik. Tahun 1999 keduanya terlibat konflik di Jawa Tengah. Pada tahun 2004 terjadi konflik kecil di Jawa Timur. Kemungkinan besar, PPP akan ke Megawati. Hamzah adalah Wakil Presiden Megawati. Beberapa tokoh teras PPP seperti Ali Marwan Hanan adalah menteri dalam kabinet Megawati. Sangat sulit menentukan ke mana suara PKB. Elite politik partai ini tercerai berai. Pengurus struktural PKB bukanlah kader inti NU. Dengan tidak adanya Salahuddin Wahid, posisi Hasyim Muzadi menjadi sangat penting untuk mendulang suara dari NU. Tetapi, Hasyim tidak direstui Gus Dur, figur kharismatik yang dihormati warga NU. Bagi PBR, yang penting berbeda dengan PPP. Jika PPP mendukung Megawati, PBR akan mendukung SBY. Melihat gelagatnya, PBR condong ke SBY-Kalla. Tetapi, sebagaimana Pilpres 5 Juli, suara elite partai tidak selalu mencerminkan pilihan rakyat. Individualitas pemilih yang terlepas dari ikatan partai dan tokoh terlihat sangat kuat dalam putaran pertama pemilihan presiden. Trend tersebut tampaknya akan terus berlangsung pada putaran kedua. Bagi pemilih santri, memilih Megawati atau SBY, bak makan buah simalakama. Mereka bukan lahir dari rahim partai santri. Tampilnya Megawati dan SBY tidak lain karena fragmentasi politik santri. Siapa pun yang terpilih, SBY atau Megawati, mereka adalah presiden Indonesia yang sah. Yang lebih penting, negeri yang sudah terkoyak-koyak ini harus diselamatkan. (29) -Abdul Mu'ti, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah
|