| Kamis, 15 Juli 2004 | WACANA |
Siapa Mengislahkan Gus Dur-Hasyim?Oleh: Jabir AlfaruqiAPA sih susahnya mengislahkan Gus Dur dengan Hasyim Muzadi? Apakah untuk mendamaikan keduanya diperlukan mediator figur-figur kiai kultural, seperti yang disampaikan para pengamat NU? Bahkan lebih jauh, apakah benar Gus Dur itu sesulit yang diberitakan media massa untuk sekadar bisa berdamai dengan Hasyim Muzadi? Bukankah Hasyim Muzadi itu kader NU yang didukung penuh oleh Gus Dur dalam Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, Kediri, untuk bisa memenangkan pemilihan menghadapi KH Said Aqil Siraj? Tidakkah Hasyim Muzadi pula yang waktu Gus Dur mau dilengser dari kursi presiden, dengan posisinya sebagai ketua umum PBNU bersama dengan kekuatan NU menggelorakan semangat untuk memperkuat posisi Gus Dur? Jika begitu sejarahnya, lalu mengapa ketika Hasyim Muzadi berkeinginan sebagai cawapres mendampingi Megawati untuk memenangkan putaran kedua menjadi begitu sulit untuk mendapatkan dukungannya? Bahkan ada kecenderungan sulit untuk bertemu, baik secara visi-misi maupun fisik? Bila dalam putaran pertama sulit memberi dukungan kepada Hasyim, bisa dimengerti dan maklum, karena adik kandungnya, Salahuddin Wahid maju sebagai cawapres mendampingi capres Wiranto. Tetapi ketika pasangan Wiranto-Wahid kalah, mengapa Gus Dur tidak mendukung Hasyim Muzadi? Tidakkah dengan memberikan dukungan pada Hasyim, dan jika Mega-Hasyim memenangkan putaran kedua, kader-kader NU akan bisa dimasukkan dalam kabinet lebih banyak? Dengan demikian, NU dan PKB memiliki investasi modal untuk memperkuat eksistensinya ke depan. Apakah keengganan ini lebih disebabkan oleh faktor Megawati, atau faktor Hasyim, atau barangkali kedua-duanya, sehingga pintu islah itu semakin tertutup rapat? Mengapa tim sukses Hasyim Muzadi harus bersusah payah melobi Gus Dur agar mau islah dengan Hasyim Muzadi? Kalau memang tidak mau diajak, mbok ya ditinggal saja? Bukankah Gus Dur itu old leader yang semestinya tidak lagi menjadi tumpuan para politisi muda NU untuk mendapatkan dukungan politik? Memang Gus Dur pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama tiga kali, tetapi bukankah itu sudah menjadi sejarah dan pemegang nahkoda PBNU setelahnya adalah Hasyim Muzadi sebelum dinonaktifkan oleh syuriah PBNU beberapa bulan lalu. Untuk apa sih orang masih mengharapkan dukungan Gus Dur untuk memenangkan sebuah pertarungan politik? Mbok ya para politisi NU itu bisa terbebas dari bayang-bayang kebesaran Gus Dur. Berani tampil gentleman dan tanpa menyinggung perasaan Gus Dur. Toh sekarang sudah banyak yang mahir di bidang politik. Tanpa izin Gus Dur pun mereka bisa bermain politik sendiri-sendiri. Lalu mengapa harus membawa-bawa payung restu Gus Dur? Kalau memang Hasyim Muzadi itu lebih dipercaya warga NU untuk menjadi pemimpin nasional, meskipun Gus Dur melarangnya, dia akan jadi. Sebaliknya, meskipun Gus Dur mendukung, tetapi kalau warga NU tidak memilihnya, pasti kalah. Bukankah semua usaha untuk melobi Gus Dur itu semakin membuktikan bahwa sebenarnya yang punya penumpang itu Gus Dur bukan Hasyim. Komitmen dan Moral Sebetulnya tidaklah terlalu sulit mengislahkan Gus Dur dengan Hasyim. Gus Dur dengan tokoh Israel saja bisa bertemu, bergandeng tangan dan bekerja sama dengannya, masak dengan kader NU sendiri tidak bisa sejalan? Dengan tokoh-tokoh non-muslim yang ada di Indonesia maupun di luar negeri, Gus Dur juga bisa bekerja sama dengan baik? Lalu mengapa ada kesulitan untuk sejalan dengan orang-orang yang dibesarkannya sendiri? Dari sini lalu muncul pertanyaan, sebenarnya yang sulit bertemu itu Gus Dur dengan para kadernya atau para kadernya yang sulit bertemu dengan Gus Dur? Kalau yang pertama lebih disebabkan oleh faktor Gus Dur, sedangkan yang kedua lebih ditentukan oleh para kadernya. Lalu, apakah benar diperlukan figur-figur kiai kultural untuk mengislahkan Gus Dur dengan Hasyim? Sejauh yang saya tahu, para kiai kultural mendukung sikap Gus Dur, bukannya menyalahkan atau mengingatkan agar mendukung Hasyim. Atau paling-paling diam terhadap sikap Gus Dur. Yang tidak setuju dengan sikap Gus Dur dan berupaya mengislahkan keduanya adalah para kiai politik. Sedangkan para kiai kultural tidak merasa resah dengan perbedaan sikap keduanya. Sepengetahuan penulis, untuk mengislahkan Gus Dur dengan siapa pun tidak terlalu sulit. Persyaratannya sangat mudah dan sederhana, tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Yakni adanya kesamaan moral dan komitmen. Dua hal ini tidak cukup bila hanya dipenuhi dengan kesamaan wawasan, pengalaman, visi dan missi saja. Sebab bisa saja secara konsep, wawasan, visi dan missi sama tetapi dalam praktek, perilaku, dan komitmen riilnya berbeda, maka sulit akan bertemu. Faktor di atas itulah yang menjadi penentu bisa atau tidaknya Gus Dur diajak islah dan bekerja sama. Bila ada figur yang memenuhi kriteria moral dan komitmen yang sejalan dengannya, sebetulnya tanpa diminta pun, dia akan mendukung. Sebaliknya, meskipun diminta dan didorong untuk mendukung, bila tidak ada kedekatan komitmen dan moral, justru akan kontra produktif. Yang diminta dukungan, tetapi sering penggembosan yang diperoleh. Lalu, apa sebabnya Gus Dur dengan Hasyim sulit berislah dan memberikan dukungan? Adakah itu disebabkan karena adanya perbedaan moral dan komitmen? Hanya Gus Dur dan Hasyim yang tahu persis masalah ini. Kemudian siapa yang bisa mengislahkan keduanya, ya mereka itu sendiri, bukan orang lain. (29) -Jabir Alfaruqi, Direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan (LSAP) |