logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juli 2004 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Haruskah Suporter Memendam Dendam?

-- Ketika mengikuti berita rekonsiliasi kelompok suporter Semarang, Panser Biru, dengan Pasoepati dari Solo, kita segera merespons: seharusnyalah begitu dan buat apa memendam dendam. Api dendam yang mengapung sejak 2000 seolah-olah sulit dipadamkan, sampai para pentolan dua kelompok suporter dua kota di Jawa Tengah tersebut bertemu di satu meja di kantor Koran Wawasan, Jumat (9/7) lalu. Barang tentu juga muncul kesadaran, rekonsiliasi itu masih membutuhkan langkah-langkah konkret karena jangan-jangan hanya terjadi di lapisan elite dan tidak menyentuh akar rumput. Benar juga rupanya, spanduk hujatan kepada Pasoepati masih terpampang di Stadion Jatidiri Karangrejo saat PSIS bertanding melawan Persijatim Solo FC, Sabtu sore.

-- Ya, seharusnyalah secara arif pemasangan spanduk itu disikapi sebagai bagian pernik misinteraksi, bagian dari proses yang tentu tidak dapat secara cepat menghasilkan keharmonisan hubungan. Proses penyadaran tentu harus disadari membutuhkan waktu, mengingat tarik ulur hubungan yang tidak menentu berlangsung dalam waktu yang tidak pendek. Karena itu, sangatlah mengherankan insiden spanduk tersebut malah memicu reaksi Mayor Haristanto, mantan Presiden Pasoepati yang melayangkan somasi kepada Panser Biru dan ketua panitia pertandingan PSIS. Tembusannya juga dikirim ke media massa. Mayor menyatakan apa yang dilakukan itu untuk membangun kepentingan bersama dan demi prestasi. Prestasi tidak ditentukan oleh masa lalu tetapi masa depan.

-- Kita setuju, membangun prestasi tidak ditentukan oleh masa lalu tetapi oleh masa depan. Jadi tepatkah somasi yang dilayangkan oleh Mayor? Dengan mengirim pernyataan ke media massa, apa pun pertimbangannya, jelas berpotensi menguak kembali luka lama. Padahal sebenarnya pernik di tengah rekonsiliasi itu masih bisa dibicarakan dengan Panser Biru karena toh proses islah masih akan terus berjalan dan mencari bentuk. Pertama-tama tentu harus disadari, islah membutuhkan sosialisasi dan bukti-bukti adanya kemauan bersama terutama lewat keteladanan dari para elite kedua kelompok suporter tersebut. Dibutuhkan langkah, pernyataan-pernyataan dan agenda-agenda bersama yang menegaskan keseriusan untuk membangun hubungan.

-- Kita menghargai sikap Wakil Presiden Pasoepati Bimo Putranto yang cepat mengambil peran untuk menandaskan bahwa somasi Mayor Haristanto bersifat pribadi dan bukan kelembagaan. Dengan kemungkinan itu, kita tentu mengharapkan kedua pihak bersikap dewasa dengan mewaspadai setiap potesi yang bisa menghambat proses. Alangkah sayang, suporter dari dua kota di satu provinsi selama empat tahun terus-menerus diliputi perasaan saling curiga, saling membenci, dan saling menghalangi. Panser Biru sulit datang ke Stadion Manahan, sedangkan Pasoepati ditolak untuk menyaksikan pertandingan di Stadion Jatidiri. Semua dipicu oleh keterdegradasian PSIS pada musim 1999-2000 lewat kekalahan 0-1 dari Pelita Solo yang disusul kerusuhan suporter.

-- Penajaman karakteristik suporter sepak bola kita terbangun melalui pembentukan kelompok-kelompok. Ada proses menarik. Awalnya adalah mengakomodasi fanatisme melalui wadah kelembagaan baik yang terstruktur dengan tim suatu kota maupun yang independen. Pola pendukungan yang mengarah kepada entertainment dipelopori oleh Aremania. Mulai muncul bentuk positif ketika kelompok-kelompok itu berlomba untuk tertib dan atraktif. Namun, psikologi kelompok rupanya menciptakan bias dengan ''pemetaan fanatisme''. Suporter Bandung bermasalah dengan suporter Jakarta, Solo dengan Semarang, dan sebagainya. Kondisi-kondisi semacam ini jelas tidak kondusif bagi iklim kompetisi sepak bola ataupun kehidupan berbangsa secara makro.

-- Sejauh ini, kelompok-kelompok suporter telah memberi identitas, kemeriahan, dan melahirkan ketokohan sejumlah nama. Memang belum ada penelitian kuantitatif, bagaimana pengaruh kelompok suporter untuk mengangkat prestasi suatu kesebelasan. Namun secara kualitatif, pengaruh itu dapat dilihat dari spirit yang berlipat karena keriuhrendahan dukungan. Atau bisa juga terjadi, kekecewaan kelompok fans yang dilampiaskan dengan umpatan atau hujatan malah menjadi kontraproduktif. Kita memahami tidak mudah melupakan insiden 2000, tetapi menganggap urusan ini sebagai persoalan ''hidup mati'' sangatlah tidak seimbang. Alangkah bijaksana jika Panser Biru dan Pasoepati menuntaskan persoalan ini. Karena dengan bergandeng tangan, jelas lebih produktif dan bermartabat.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA