| Kamis, 15 Juli 2004 | NASIONAL |
Masa Sulit 12 Tahun Tinggal Kenangan
DUAbelas tahun lamanya, seiring dengan mencuatnya kasus Waduk Kedungombo, penduduk di kampung itu harus melewati masa-masa sulitnya. Mereka tinggal di gubuk-gubuk bersama binatang piaraan, tanpa ada kepastian masa depan. Kini, setelah sekian tahun kemudian, mereka mulai menatap zaman dengan semangat memulai hidup baru. Di lereng yang berdekatan dengan tepian Waduk Kedungombo, Rabu kemarin, sebuah permukiman tampak di antara lembah dan ngarai yang berjajaran di sekitar kawasan tersebut. Aneh, di wilayah yang terpencil dan jauh dari keramaian seperti itu masih ada permukiman penduduk. Namun, demikianlah adanya. Kampung Kedungpring, Kelurahan Kedungrejo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, memang boleh dikatakan kampung yang terpencil. Namun --menariknya--, meski berada di tempat terpencil, penataan permukiman di kawasan itu sudah tampak maju. Jalan beraspal yang berkelak-kelok mengelilingi kampung, berkesan bersih dan rapi ketika dilengkapi dengan selokan di sisi-sisinya. 12 tahun ''Memang, jika dibandingkan dengan permukiman lama, relokasi ini saya akui lebih baik dan lebih tertata. Namun toh, untuk menjadi seperti ini, kami harus melewati perjuangan selama 12 tahun lebih,'' ujar Bejo, salah seorang warga di kampung tersebut. Boleh jadi, memang berat apa yang dialami warga saat masih belum bisa menerima adanya relokasi (karena berkaitan dengan masalah ganti rugi). Di antaranya, seperti yang diungkapkan Darsono, salah seorang sesepuh warga di kampung tersebut. Hal itu terpaksa dilakukan warga, karena mereka menganggap ganti rugi yang akan diberikan saat itu kurang layak. Alasannya, karena tempat tinggal dan lahan pertanian mereka adalah daerah yang subur. Bahkan, mereka menganggap daerah tersubur di antara daerah-daerah lain yang terkena proyek Waduk Kedungombo. Itulah, mengapa ketika mereka menganggap ganti ruginya belum layak, tetap bersikukuh tak mau menerima. Meskipun konsekuensinya harus melewati masa sulit selama 12 tahun. Namun kini, masa-masa sulit itu seperti tinggal kenangan, ketika para warga mulai menempati relokasi tersebut. Dengan semangat hidup baru, tanda-tanda kepastian tentang masa depan mereka yang lebih baik tampaknya telah berada di depan mata. Satu hal lagi, sekarang ini mereka juga merindukan kehadiran seorang pemimpin yang dengan sikap kebapakan mau datang, mendengar, memperhatikan, bahkan bergaul dengan mereka. Seperti yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto, ketika mau hadir dan bergaul layaknya seorang teman pada Rabu kemarin.(Wisnu Kisawa-58a) | ||||