| Kamis, 15 Juli 2004 | EKONOMI |
Harga Ayam Naik Sampai 50%SEMARANG- Harga ayam di Semarang beberapa hari terakhir naik. Kenaikan sampai 50% untuk jenis tertentu tersebut dipicu oleh melonjaknya harga pakan ternak. Selain itu, wabah flu burung (avian influence) 3-4 bulan lalu turut memiliki andil terhadap kenaikan tersebut. Menurut Mujiman, peternak ayam dari Kabupaten Semarang, naiknya harga ayam tersebut bukan hanya terjadi di Semarang, melainkan juga di Jawa Timur. Harga ayam pada peternakan di provinsi tersebut yang sebelumnya berkisar Rp 9.000-an, saat ini mencapai Rp 9.800. Penyebab kenaikan tersebut lantaran sebulan lalu terjadi kenaikan harga pakan ternak dari sekitar Rp 115.000 per sak menjadi Rp 145.000 per sak. Kenaikan ini mengikuti naik-turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Di sisi lain, akibat serangan wabah flu burung, banyak peternak kecil terpaksa gulung tikar. Sementara, permintaan daging ayam meningkat tajam, terkait dengan banyaknya warga yang punya hajat. "Apalagi, banyak pembeli justru minta ayam-ayam yang bobotnya di atas 2,5 kilogram (gemuk-Red)," ujarnya. Harga ayam potong kini telah mencapai Rp 11.000/kg. Padahal seminggu sebelumnya masih stabil, yakni Rp 9.000/kg. Demikian halnya dengan ayam jenis horen naik dari semula Rp 7.000/kg menjadi Rp 10.000. Adapun harga ayam pejantan, kisaran kenaikannya merupakan yang tertinggi, sampai 50%, yakni dari Rp 10.000/kg menjadi Rp 15.000/kg. Slamet (48), seorang pedagang yang menempati Los C Pasar Kobong (Rejomulyo) mengaku pusing dengan kenaikan harga ayam tersebut. "Biasanya para bakul selalu bayar tunai, tapi sekarang, mereka banyak yang bon tapi tetap mengambil barang saya. Kalau begini terus bisa bangkrut," ujarnya. Namun menurut penuturan Darmini (35) pedagang ayam lain di Pasar Kobong, kenaikan harga ayam tersebut tidak terlampau berpengaruh terhadap permintaan barang di kiosnya. Para pembeli, yang sebagian besar para bakul dan pedagang makanan berbahan dasar daging ayam, tetap mengambil barang darinya. Sementara itu, pihak yang merasakan dampak kenaikan harga ayam tersebut, adalah pedagang makanan. Ny Jon penjual ayam goreng di Jl Pringgading terpaksa harus meminimalkan laba yang dia dapatkan. Awalnya, dia berusaha menyesuaikan kenaikan harga ayam tersebut dengan menaikkan harga dagangannya. Sepotong ayam goreng yang semula berharga Rp 3.500, dia naikkan menjadi Rp 3.750. Namun baru beberapa hari berlangsung, para pelanggan warung makannya memprotes kenaikan harga tersebut. Alhasil, Ny Jon harus mengembalikan harga seperti sedia kala, dengan konsekuensi laba minimal. (Roe,G6,Rei-82) |