logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 SALA
Line

Tanam Tembakau di Bawah Naungan

ADA yang unik di Klaten, yang tak bisa ditemui di daerah lain. Yakni menanam tembakau di bawah naungan seperti kelambu.

Tembakau yang ditanam jenis vorstenland, yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara X. Tembakau itu akan diolah secara khusus untuk kemudian diekspor.

Untuk mengolahnya juga perlu sarana khusus seperti los, yakni bangunan berukuran besar dari rangka bambu dengan atap daun tebu. Di bangunan itulah tembakau diasap, sebelum akhirnya dikemas dan diekspor.

Menurut salah seorang mandor PTPN X, Sukirno, di Kecamatan Kebonarum terdapat 20 los. Untuk mendirikan los, PTPN menyewa tanah milik perorangan dalam jangka panjang, kemudian didirikan los dengan cara borongan.

Bangunan los biasanya sangat besar. Satu los berukuran lebar 18 meter dengan panjang 100 meter dan tinggi 11,5 meter.

Suwaji, warga Dukuh Karangkembang, Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Klaten, adalah figur yang berpengalaman membangun los. Laki-laki berusia 53 tahun itu sudah menekuni pekerjaannya 28 tahun, tepatnya sejak 1976.

Dia adalah pemborong pembangunan los yang sudah malang-melintang tak hanya di Klaten, tapi juga ke Boyolali bahkan sampai ke Kediri dan Jember, Jawa Timur. Saat ini dia memimpin tiga kelompok pekerja pembuatan los, yang berjumlah 35 orang.

''Dulu saya hanya ikut orang. Lama-kelamaan saya tahu proses pembuatannya, lalu saya membuat kelompok sendiri yang beranggota 10 orang. Kemudian saya mulai memborong pembuatan los sampai sekarang,'' kata Suwaji saat ditemui di Desa Malangjiwan.

Menurutnya, untuk membuat los berukuran tinggi 11,5 meter, lebar 18 meter, dan panjang 100 meter diperlukan 5.000 batang bambu apus untuk kerangka atap dan 700 batang bambu petung untuk tiang dan kuda-kuda. Sebagai pelengkap, diperlukan 85 kg paku berukuran 4'', 30 kg paku 5'', dan kawat 1,5 kuintal.

Satu Bulan

Selain itu, perlu 500.000 helai tali ijuk untuk mengikat bambu dan membuat rapak (daun tebu yang disusun untuk atap atau dinding). Kebutuhan tali sangat banyak, karena untuk satu los butuh 22.000 rapak untuk atap dan 5.000 rapak untuk dinding.

''Hanya perlu waktu sebulan untuk membuat los dengan 10 orang, kalau pengiriman bahan baku lancar. Untuk membuat karangka hanya butuh waktu seminggu. Yang paling lama membuat rapak dari daun tebu,'' ujar Suwaji.

Sejak Februari 2004, dia sudah menyelesaikan pembangunan enam buah los, dengan ongkos borong tiap los Rp 6 juta. Untuk pengadaan bahan baku yang diperkirakan Rp 50 juta, dilakukan langsung oleh petugas PTPN X.

Selain membuat los, laki-laki itu juga menerima order renovasi los. Sebab bahan los akan rapuh dalam kurun waktu tertentu.

Menurutnya, kerangka bambu petung bisa bertahan sampai lima tahun, sedangkan bambu apus berdaya tahan lebih pendek.

Untuk atap rapak daun tebu harus diganti setiap dua tahun sekali. Guna membuat los, dia harus menguasai jenis-jenis konstruksinya, mulai membuat rangka dari bambu petung ada jenis jontong lakon, jontong istimewa, jontong nomor satu, dan jontong nomor dua, sampai tahap penyelesaian.

Semua itu dipelajari secara otodidak. Lamanya pengerjaan tergantung pada pengiriman barang.

''Bahan-bahan kadang dikirim tidak bersamaan. Jadi setelah yang ini selesai dan mau mengerjakan yang lain, kadang bahannya belum datang. Ini memperlambat pengerjaan. Kami rugi waktu, seharusnya sudah mengerjakan di tempat lain jadi nggak bisa,'' ujarnya.

Bila pengerjaan berjalan lancar, dia mengaku mendapat untung yang lumayan. Tapi bila ada keterlambatan pengiriman bahan baku, keuntungan akan berkurang.

Karena ada tambahan ongkos tukang. Semua karyawannya berasal dari tetangga sekampung dan beberapa kenalan. (Merawati Sunantri-49s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA