logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 SALA
Line

"Jika Perlu Buatlah Sumur Tradisional"

  • Mengatasi Kebutuhan Air Rumah Susun

KARANGASEM- Ketua Komisi D DPRD Surakarta, James August Pattiwael menegaskan, Pemkot harus segera melakukan sosialisasi lanjutan terkait dengan rencana pembuatan sumur dalam di rumah susun sederhana (rusunawa).

Namun anggota lainnya, Zaenal Arifin, justru tidak ingin memaksakan kehendak bila warga sekitar tetap menolak rencana pembuatan sumur dalam. James menuturkan, keberadaan sumur dalam di rusunawa, tepatnya di di RT 5 RW 3 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, cukup penting.

Apalagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menyatakan tidak sanggup memasok kebutuhan air bersih bagi warga di lokasi. Sebab pendistribusian air PDAM di beberapa lokasi masih mengalami kesulitan, sedangkan dalam kapasitas produksi pun masih mengalami defisit 43 liter/detik. "Mau tidak mau, sumur dalam itu memang harus dibangun. Kalau tidak, bagaimana warga rumah susun bisa mendapatkan kebutuhan air bersih?" kata dia.

Anggota FPDI-P ini menyatakan, Pemkot harus bisa meyakinkan warga bahwa sumur dalam tidak akan memengaruhi air pada sumur warga. Karena itu, Pemkot harus menghadirkan peneliti dari Badan Pengkajian dan Pertambangan Enerji (BPPE) untuk menyosialisasikan hasil penelitiannya tentang sumur dalam.

Untuk diketahui, Pemkot telah menyosialisasikan sumur dalam berdasarkan kajian dari BPPE pada akhir Juni lalu. Meski sudah disampaikan sumur dalam tidak akan memengaruhi sumur lantaran berkedalaman lebih dari 80 m, warga pun tetap menolak.

"Karena warga tetap menolak, Pemkot perlu melakukan sosialisasi lanjutan dengan menghadirkan penelitinya langsung. Diharapkan, hal itu bisa meyakinkan warga sehingga bersedia menerima keberadaan sumur dalam."

Dia menganggap kekhawatiran warga tidak cukup alasan. Seraya mencontohkan beberapa kawasan yang tidak bermasalah meski lokasinya terdapat sumur dalam yang dibangun suatu perusahaan.

Sumur Tradisional

Secara terpisah, Zaenal Arifin mengimbau Pemkot membangun sumur tradisional dan sumur pompa di beberapa titik di rusunawa. "Kalau tidak ada titik temu, kenapa tidak dibuat sumur tradisional saja? Bukankah tidak ada dampak yang bakal merugikan warga?"

Anggota FPAN ini memahami keresahan warga karena ada kejadian yang membuktikan sumur dalam berdampak buruk bagi debit air sumur. "Kami kan banyak mendengar beberapa lokasi mengalami penyusutan debit air akibat adanya sumur dalam. Pada awalnya memang tidak terjadi apa-apa, tapi kemudian merugikan warga. Jadi wajar bila warga tidak percaya dengan sosialisasi yang dilakukan Pemkot."

Apalagi, PDAM telah menyatakan tidak mampu memenuhi kebutuhan penghuni rusunawa. Karena itu, pembuatan sumur tradisional merupakan pilihan terbaik. "Kan tidak ada salahnya kalau warga rusun nanti menimba air. Atau kalau ingin mudah ya pasang saja pompa air."

Namun bila Pemkot bisa menjamin keberadaan sumur dalam tidak berefek buruk, dia mengharapkan Pemkot melakukan sosialisasi ulang. "Kalau ada jaminan tidak ada dampaknya, bisa saja dibangun sumur dalam. Namun kalau tidak ada jaminan, ya tidak usah. Bangun saja sumur tradisional." (G13-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA