logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 SALA
Line

Gelap Mata, Rekannya Disabit

LAWEYAN - Karena gelap mata, Mustofa (28), warga Temanggung, tega menganiaya Agus (25), rekan satu kosnya dengan sabit hingga terluka parah. Korban yang tercatat sebagai warga Talang, Grogol, Sukoharjo itu mengontrak sebuah kamar bersama pelaku di daerah Badran, Laweyan, hingga kemarin masih terbaring di Ruang Gawat Bedah (RGB) RS Muwardi.

Kejadian Jumat malam lalu pukul 23.00 itu dipicu kedatangan Mustofa di tempat nongkrong anak muda Jl Dr Muwardi, tak jauh dari kos tersangka. Di tempat itu, ternyata telah berkumpul Agus bersama teman-temannya. Di tengah kerumunan anak-anak muda itu tersaji pula minuman berwarna kuning. Tersangka mengira Agus saat itu sedang mabuk-mabukan.

"Mustofa memang tidak suka mabuk dan dia pernah mengingatkan korban agar tidak membawa minuman keras. Karena itu, begitu dia melihat ada minuman keras, anak saya langsung ditegur, " tutur Wicoro, ayah Agus yang setia menunggui anaknya itu di RS Muwardi, kemarin.

Minta Maaf

Wicoro mengetahui asal-usul peristiwa berdarah itu dari keterangan sejumlah saksi yang menolong anaknya. Dikatakannya, teguran Mustofa ternyata menyinggung perasaan Agus. Cekcok pun terjadi. Korban bersikukuh minuman itu bukan minuman keras, tetapi hanya minuman suplemen yang tidak memabukkan.

Hanya, penjelasan tersebut tidak mampu meredam emosi tersangka yang sedang kalap. "Tersangka tidak bisa menerima penjelasan itu. Dia malah kalap, dan mengambil arit (sabit-Red) untuk menganiaya anak saya. Sejumlah orang di lokasi itu tidak berani mencegah, takut menjadi sasaran amukan pelaku. Saat itu pelaku sedang gelap mata," tuturnya.

Selain di punggung, korban juga menderita luka bacok di dada. Penganiayaan itu nyaris merenggut nyawa korban, sebab sabit itu hampir saja menembus jantung. "Lukanya sangat parah, tetapi dokter bilang kondisi anak saya sudah mulai stabil," katanya lagi.

Meski nyawa anaknya hampir melayang, perkara itu menurut Wicoro sengaja tidak dilaporkan ke polisi. Dia mengaku pasrah dan memilih menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Begitu Agus dibawa ke rumah sakit, tersangka langsung menemuinya. Dia mengakui kekhilafannya, dan meminta maaf. (san-17k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA