| Senin, 12 Juli 2004 | SALA |
PDAM Olah 10.000 M3 Air Limbah RumahSEMANGGI - Unit Pengelolaan Limbah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo menangani sebanyak 10.000 m3 air limbah rumah tangga. Pengolahan tersebut dilakukan di dua instalasi pengolah air limbah (ipal), yakni di Semanggi dan Kedungtungkul Mojosongo. "Kapasitas kedua ipal itu mampu mengolah 54 liter/detik air limbah. Untuk sementara kami hanya mengolah selama enam jam setiap hari," kata Kepala Unit Pengolahan Limbah PDAM, Agus Saryono SE. Saat menerima kunjungan anggota Komisi D DPRD Kota Banjarmasin, dia mengatakan, volume air limbah di Solo sekitar 70.000 m3 setiap hari. Volume limbah itu dihitung dari penggunaan air bersih oleh warga. "Kami memperhitungkan, di Solo ada 150.000 unit rumah. Setiap rumah diasumsikan dihuni 5-6 orang dan penggunaan air bersih setengah meterkubik. Dari penggunaan air bersih itu, 70% terbuang menjadi limbah," ujarnya. Dengan perhitungan tersebut, setiap hari air limbah yang dibuang sekitar 47.000 m3. Padahal pengoperasian kedua ipal itu berlangsung enam jam atau hanya mengolah 10.000 m3. "Hingga kini kedua ipal itu baru melayani 10.500 sambungan rumah (SR) sebagai pelanggan ipal. Untuk bisa mengolah air limbah di Solo, kedua instalasi itu masih membutuhkan beberapa sarana penunjang." Minta Bantuan Agus Saryono saat menerima kunjungan Kepala Dinas Permukiman Tata Ruang Jateng, Ir Sudanti MM saat meninjau lokasi Ipal Semanggi dan Kedungtungkul mengatakan hal senada. Karena itu bersama Direktur Umum PDAM Drs Sudiyanto, Agus menyampaikan permohonan agar pemerintah provinsi membantu penyediaan sarana pendukung ipal tersebut. Bantuan yang diajukan meliputi mobil pembersih pipa (rom comby), pompa air limbah (supmersible), dan bak pengering lumpur. "Syukur-syukur pepmrov juga memberikan bantuan dana sambungan rumah air limbah untuk penyambungan ke rumah warga. Dengan tambahan sarana dan dana sambungan rumah itu, pada 2010 PDAM bisa melayani sekitar 25.000 SR," katanya. Menanggapi permintaan itu, Sudanti tidak banyak berkomentar. Dia hanya mengatakan kehadirannya di Solo untuk mengamati pengolahan air limbah dan masalah permukiman. "Saya mengamati dulu agar terdapat gambaran soal pengelolaan air limbah di kota," katanya didampingi Pimpinan Proyek Pengembangan Prasarana dan Sarana Permukiman, Ir Purwandi SP MM. Untuk mengolah air limbah rumah itu, setiap pelanggan dikenai retribusi Rp 5.000. Retribusi sebesar itu dikenakan untuk pelanggan klasifikasi rumah. Namun nanti ada subsidi silang antara pelanggan rumah, sosial, dan niaga. "Pelanggan sekarang sudah mulai membayar setelah retribusi ditetapkan menjadi Rp 5.000. Sebelumnya, retribusi sebesar Rp 7.000/SR dianggap memberatkan, meski sudah ditetapkan DPRD."(sri-17i) |