logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 SALA
Line

Pasar Darurat Bisa Macetkan Lalin

  • Hari Ini Ditempati Para Pedagang

KOTA - Pedagang Pasar Nusukan yang kehilangan tempat berdagang akibat kebakaran, mulai pagi ini menempati dasaran baru di pasar darurat.

Pemilihan tempat tanpa undian, tetapi berdasarkan nomor surat hak penempatan (SHP) yang mereka miliki.

Pasar darurat yang ditempati berada di Jalan Astana Utara. Diperkirakan, sekitar 160 pedagang akan ditempatkan di situ.

Banyaknya pedagang Nusukan yang berdesakan di tempat itu pun memunculkan kekhawatiran. Sebab hal itu sangat berpotensial menimbulkan keruwetan lalu lintas.

"Besok (hari ini-Red) sebagian pedagang sudah bisa pindah ke kios darurat di Jalan Astana Utara. Penempatan itu tanpa pengundian karena kesepakatan awal, itu berdasarkan nomor SHP," ujar Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Nusukan (Pappan ) Aris Saputro, kemarin.

Aris menyatakan, penampungan sementara dibangun di depan pasar sisi selatan masih dalam pengerjaan. Tiap-tiap pedagang los akan menempati petak berukuran 2 m x 1,5 m dan beratap seng.

Aris mengatakan, sementara baru sekitar 160-an pedagang yang akan menempati los darurat di jalan pemisah pasar selatan dan utara tersebut.

Sisanya, sekitar 100 pedagang, penjual pakaian dan sepatu akan ditempatkan di bagian depan pasar selatan.

Antara los darurat dan kios pedagang nanti dibuat berhadapan. Namun, los darurat yang dibangun di sepanjang Jalan DI Panjaitan kemarin baru pengecoran alas bangunan. Bangunan semipermanen itu direncanakan selesai dua pekan mendatang.

"Penempatan pedagang di pasar darurat disesuaikan dengan nomor SHP yang dimiliki. Kebetulan di SHP sudah terkelompok antara pedagang sayur, daging, dan sebagainya sehingga penempatan mudah sesuai dengan barang dagangan pula," urai dia.

Oprokan

Pedagang oprokan yang biasanya datang dari luar kota, seperti biasa menggelar dagangan di sebelah barat pasar atau pertigaan Jalan Adisumarmo - Jalan Piere Tendean. Kehadiran pedagang oprokan tersebut membuat arus lalu lintas terhambat.

Akibat pembangunan pasar yang harus dikebut, pedagang terpaksa berpindah-pindah dasaran. Hal itu pun menimbulkan kesulitan tersendiri, terutama pedagang yang dagangannya banyak.

Setelah pasar terbakar, mereka pun tak mempunyai tempat penyimpanan barang yang layak. "Yang membuat jengkel, katanya pekerja mau nglembur, tetapi ternyata urung. Padahal pedagang terlanjur pindah ke sana kemari agar pembangunan pasar darurat tak terganggu," ungkap Aris.

Pedagang juga mengharapkan Pemkot segera mengagendakan pembangunan ulang Pasar Nusukan. Sebab, pembangunan pasar darurat dinilai berpotensi menimbulkan keruwetan lalu lintas.

Apalagi, hampir tiap hari bagian luar pasar tersebut selalu didatangi penjual dari luar kota. "Harus diakui, selama menempati pasar darurat, situasi lalu lintas di sekitarnya bakal ruwet. Jika tak segera dibangun ulang, penataan akan sulit dilakukan," urai dia.

Aris meminta pembangunan ulang harus melibatkan pedagang. Pembangunan juga tak mengubah konsep pasar tradisional yang dulu disandang tempat itu. (G18-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA