logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 PEMILU 2004
Line

Analisis Berita

Jika Gus Dur Tetap Pegang Kunci

HASIL penghitungan suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli lalu belum final. Namun opini yang terbentuk sudah menyimpulkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla (JK) dan Megawati Soekarnoputri - Hasyim Muzadi (Mega-Hasyim) yang akan maju pada putaran kedua 20 September mendatang.

Tak hanya opini majunya dua pasangan itu yang terbentuk. Tim sukses baik dari SBY-JK maupun Mega-Hasyim sudah mengambil langkah dan ancang-ancang. Mulai ada yang memaparkan program sampai menyerang calon lain dengan propaganda adanya intervensi asing.

Selain mendapat serangan tuduhan didukung kekuatan asing, pasangan SBY-JK diperkirakan akan menghadapi ganjalan dari tokoh pencetus pertemuan Ciganjur (Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Akbar Tandjung, dan Sri Sultan HB X) pada putaran kedua 20 September nanti. Para tokoh Ciganjur itu diperkirakan akan bersatu untuk mendukung Megawati kembali menjadi presiden.

Setidaknya itulah prediksi pengamat politik LIPI Dr Syamsudin Haris menjelang pemilu presiden dan wakil presiden putaran kedua meski sampai saat ini belum ada tanda-tanda Ketua Umum Dewan Syuro PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi "otak" kumpulan elite politik kelas wahid itu belum menunjukkan gelagat ke arah sana.

Alasannya, sampai sekarang partai yang didirikan warga NU belum menemukan jalan atas rujuknya Gus Dur dengan Ketua Umum PBNU Nonaktif Hasyim Muzadi yang mendampingi Mega sebagai cawapresnya. Padahal, menurut penuturan Wakil Ketua Umum DPP PKB Mahfud MD, peluang untuk mendekati Gus Dur sangat terbuka, bisa oleh kubu Mega atau kubu SBY. Artinya, untuk sekarang tidak bisa diklaim oleh salah satu tim dari capres yang maju ke putaran kedua.

Untuk menyatukan kembali tokoh Ciganjur hanya di Gus Dur. Jadi jika Mega ingin menggandeng PKB dan menyatukan warga NU, rujuknya Gus Dur dengan Hasyim menjadi syarat utama setelah lama berseteru. Sangat beralasan karena suara NU pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli lalu pecah ke mana-mana dan yang golput mengikuti jejak Gus Dur juga banyak.

Meski demikian, pertemuan Ciganjur seperti berapa tahun lalu itu akan dilakukan karena adanya keinginan dari sejumlah tokoh untuk menggulirkan dan melaksanakan agenda reformasi di negeri ini, sekaligus untuk mencegah kembalinya Orde Baru berkuasa.

''Saya yakin tokoh-tokoh pertemuan Ciganjur (di kediaman Gus Dur) akan berkoalisi. Mereka akan mendukung Megawati dan tidak akan mendukung SBY. Alasannya, SBY tidak memiliki saham terhadap reformasi. Selain itu, tokoh Ciganjur itu juga melihat soal dikotomi sipil militer. Nah pada saat itu, SBY tidak ada karena beliau dianggap tidak memiliki saham terhadap reformasi," papar Syamsudin.

Masih dari prediksinya, jika pencetus Ciganjur berkoalisi dengan Megawati-Hasyim Muzadi, jelas menjadi sebuah kekuatan luar biasa untuk tampilnya kembali Mega menjadi presiden. Tentu sulit bagi SBY untuk memenangi pemilu presiden putaran kedua. Akan tetapi, itu semua sangat tergantung pada hasil pilihan rakyat.

Mencegah SBY

Jadi, kekuatan lama seperti Amien, Gus Dur, Akbar, Mega, dan Sri Sultan akan menghidupkan kembali poros Ciganjur, antara lain mencegah majunya SBY menjadi RI-1. ''Saya melihat kemungkinan terbangunnya emosi perlawanan terhadap SBY ini sangat terbuka. Kalaupun Golkar nantinya akan lari ke SBY, para pemilih Islam kelihatannya lebih netral memberikan suaranya untuk kemenangan Megawati," demikian prediksi pengamat UI Laode Ida memperkuat pendapat Syamsudin Haris.

Alasan dukungan kepada Megawati itu karena mereka melihat SBY tidak punya saham terhadap reformasi. Dengan demikian, mereka melihat SBY sebagai lawan bersama. Selain itu, mungkin juga karena adanya sebuah keinginan mempertahankan posisi sipil dan menolak militerisme dalam pemerintahan.

Soal perjuangan reformasi dan dikotomi sipil militer akan menjadi isu sangat penting menjelang pemilu presiden dan wakil presiden putaran kedua. Soalnya, SBY dalam sebuah buku bahkan menyatakan demonstrasi oke tapi reformasi tidak. Ini jelas menunjukkan, dalam memberikan solusi soal kenegaraan, pendekatan SBY kurang sejalan dengan konsep reformasi.

Sementara itu, orang-orang dekat Gus Dur seperti Yahya C Tsaquf agak pesimistis dengan kembalinya tokoh-tokoh pencetus pertemuan Ciganjur. Tentang kemungkinan suara PKB, PAN, Golkar akan dilimpahkan ke Megawati, masih serbamungkin. Dia pun tidak melihat ada tanda-tanda kelompok Ciganjur akan bersatu lagi. Tampaknya akan sulit terulang karena situasinya sudah berbeda dan banyak perbedaan antarmereka.

Soal adanya kemungkinan munculnya kembali poros tengah yang dimotori Amien Rais (PAN), Gus Dur (PKB), dan Hamzah Haz (PPP) juga masih mungkin saja kembali dibentuk. Akan tetapi maknanya akan berbeda dari poros tengah pada Pemilu 1999 yang hasilnya langsung menentukan posisi presiden. Sebab, pengaruh partai dan instruksi elite partai terhadap sikap pemilih dalam pemilu presiden dan wakil presiden sekarang sangat rendah.

Koalisi poros tengah hanya bermakna pada pascapemilu. Misalnya untuk menjalin hubungan baik antara presiden terpilih dan partai yang menguasai parlemen atau sharing dalam kabinet mendatang.

Ada keyakinan pertemuan Akbar Tandjung dan Taufik Kiemas seusai shalat jumat di Masjid Baiturrahman kompleks DPR sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali Forum Ciganjur. Peluang kembali menggalang Forum Ciganjur tetap terbuka.

Namun, lagi-lagi peran Gus Dur tetap menjadi kunci. Jika terjadi islah Gus Dur-Hasyim, termasuk dengan Megawati, kemungkinan itu sangat besar. Jika tetap golput, sulit bisa menyatukan warga NU untuk secara keseluruhan memilih Mega-Hasyim.

Ada prediksi upaya mencairkan hubungan Gus Dur dengan Hasyim bisa dilakukan secara kultural. Apalagi dalam kultur NU, peluang islah sangat terbuka. Artinya, Hasyim secara politis bisa sowan ke Gus Dur. Peluang itu sangat terbuka.

Soal kemungkinan dukungan terhadap SBY ternyata bukan hal yang mustahil. Salah seorang fungsionaris DPP PKB menceritakan, semula SBY akan berangkat menjadi cawapres dari PKB. Bahkan saat itu, mulai ada lobi dengan Ketua Umum DPP Alwi Shihab. Hanya karena sesuatu hal, lobi menjadi buntu. Dalam Mukernas, nama SBY sudah masuk dalam bursa capres yang akan diajukan bersama Gus Dur dan beberapa nama saat itu.

Artinya, dengan asumsi pasangan Wiranto-Wahid tidak lolos ke putaran kedua, posisi Gus Dur tetap memegang peran dan kunci untuk menyatukan suara NU yang kehilangan induk. Jika di Mega ada Hasyim, di SBY juga ada Jusuf Kalla yang sama-sama tokoh NU.(A Adib-78j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA