| Senin, 12 Juli 2004 | PANTURA |
Pastikan Sakit Ingatan, Didatangkan Ahli JiwaBATANG- Untuk menyidik tersangka Siti Umrotun (25), Polres Batang akan mendatangkan petugas dari Dinas Psikologi Polda Jateng. Kedatangannya, untuk melakukan pemeriksaan medis apakah memang benar tersangka diduga sakit ingatan. "Kami akan koordinasi dengan Tim Psikologi Polda Jateng untuk memastikan apakah memang benar tersangka ini diduga sakit ingatan. Ini untuk membantu penyidikan,"kata Kapolres AKBP Drs Edy S Setjo MM. Dia menjelaskan, setelah menerima laporan kejadian Kapolsek Tersono Ipda Sunarto bersama anggota langsung mendatangi rumah korban. Anggota Satreskrim melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), anggota lain membuat sket mencari keterangan saksi. Melakukan pertolongan korban dan meminta dokter Puskesmas Limpung melakukan pemeriksaan untuk visum. Dia menjelaskan, tersangka kini sudah dibawa ke Mapolres Batang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, karena dari hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang menyatakan bahwa tersangka diduga mengalami ganguan ingatan, pihaknya pun harus hati-hati. Sakit ingatan berbeda jauh dengan stres."Harus dibedakan antara sakit ingatan dan stres. Karena itu, kami juga akan meminta bantuan dokter ahli jiwa." Namun, untuk Siti Umrotun berdasarkan dari keterangan saksi maupun keluarga, memang menderita gangguan kejiwaan. Sejak 2003, perilakunya aneh, lebih suka menyendiri di kamar. Tidak hanya, tersangka pun mudah marah-marah tanpa ada penyebabnya. Selain itu bicaranya sering ngelantur dan beteriak-teriak. "Kami juga memperoleh keterangan, sebenarnya pihak keluarganya sudah pernah membawa tersangka berobat pada tabib (paranormal). Namun, setelah tiga minggu kemudian kambuh,"papar Kapolres. Sampai, terjadilah peristiwa memilukan Sabtu lalu. Dimana, dia yang saat itu berada di kamar rumah orang tuanya tiba-tiba keluar menghampiri keponakannya Aris yang sedang makan buah nangka. Dengan parang (bendo) dia menggorok (membacok) leher anak bungsu kakaknya yang mengakibatkan luka menganga sepanjang 15 cm x 13 cm. "Sesuai keterangan dokter Puskesmas Tersono Dr Fatkurohman korban mati lemas, karena kehabisan darah akibat putusnya arteri dan vena-vena besar leher kanan,"jelas Edy S Setjo.(ar-90) |