| Senin, 12 Juli 2004 | PANTURA |
Bibi Bacok Leher Keponakannya
BATANG- Suasana duka menyelimuti keluarga pasangan Mursidin (35) dan Siti Umroh (30). Putra ketiganya, Aris Setiadin (3) tewas digorok bibinya Siti Umrotun (25) yang diduga kambuh sakit ingatannya. Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Tedunan, Tersono, Kabupaten Batang, Sabtu lalu. Mursidin dan istri ditemani orang tuanya Sunardi (55) dan Tijaroh (51). Desa Tedunan, merupakan desa yang terpencil di lereng perbukitan dan di tengah-tengah hutan rakyat. Meskipun masuk wilayah Kecamatan Tersono, namun untuk menjangkau desa itu dengan kendaraan roda empat harus memutar lewat Desa Sentul, Gringsing yang lebih dekat. Orang tua korban sampai kemarin masih mengalami shock. Sementara itu, pelayat juga terlihat berdatangan silih berganti untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. "Nyuwun Mas, kondisi Mursidin dan Siti Umroh masih goncang. Pikiran keduanya masih menerawang kejadian yang menimpa anak bungsunya,"ujar Mudazkir, paman Siti Umroh. Didampingi Pjs Kades Tedunan Sa'adi (44), Mudazkir yang adik Sunardi (bapak Siti Umroh) menjelaskan, peristiwa tragis itu terjadi kira-kira pukul 12.00. Korban bersama kakaknya Restu Asringsih (9) sedang bermain di dapur rumah kakeknya (Sunardi). Sedangkan rumah ke dua bocah itu letaknya tak jauh dari rumah kakeknya tempat bermain. Dua bocah itu sedang membelah buah nangka. Sedangkan Tijaroh berada di halaman rumah menjemur padi. "Asri keluar, memberi tahu Mbah Jaroh kalau nangkanya sudah dibelah. Dan, memintanya untuk ikut ke dapur,"ujar Mundzakir. Karena, neneknya masih sibuk menjemur padi, Asri kemudian masuk rumah kembali. Mengurung Diri Tersangka sendiri (Siti Umrotun) berada di dalam kamar. Dia sudah beberapa minggu mengurung diri di kamar orang tuanya, sejak sakit ingatannya kambuh. Saat Asri kembali ke dapur, dia terkejut melihat adiknya Aris sudah terkapar dan berlumuran darah sampai membasahi lantai. "Kemudian Asri keluar rumah lagi, sambil berteriak-teriak. Mbah adik disembelih." Mendegar, teriakan Asri Mbah Jaroh pun segera menuju ke dapur. Dia langsung membopong cucunya ke luar rumah sambil berteriak-teriak minta tolong. "Saya selesai salat, mendengar Yu Jaroh teriak-teriak minta tolong segera ke luar. Ternyata dia menggendong Aris seluruh tubuhnya bermandikan darah. Sayapun ikut panik dan minta tolong tetangga, namun yang melihat juga ikut bingung. Saat itu ndomblong semua, apa yang akan dilakukan,"ujar Mundazkir yang rumahnya berada di belakang dapur rumah Sunardi. Apalagi, setelah melihat bendo yang digunakan Siti Umrotun untuk menggorok masih menancap di leher Aris. Setelah, sadar apa yang terjadi, tetangga segera menghampiri Mbah Jaroh. Mundazkir sebenarnya, berusaha akan membawa Aris ke Puskesmas, karena kebetulan ada angkutan yang sedang lewat menuju ke Gringsing. Namun belum sampai naik kendaraan, korban sudah meninggal dunia. Sementara itu, Siti Umrotun yang mempunyai anak satu itu diketahui lari ke belakang rumah. Tapi, diketahui oleh Edisam, anak Mundazakir selanjutnya dimasukkan kamar. Kedua orang tua Aris, saat kejadian masih berada di sawah. Karena itu, dia terkejut ketika melihat di rumah orangtuanya banyak orang berdatangan. "Apalagi setelah mendengar anaknya meninggal karena ulah adiknya. Baik Umroh maupun Mursidin langsung shock,"ujar Saadi.(ar-90) |