| Senin, 12 Juli 2004 | PANTURA |
"Saya Tak Diganggu"PENJAGA kamar mayat adalah profesi yang jarang sekali ditekuni oleh orang karena menuntut keberanian dan jiwa sosial yang tinggi. Seorang penjaga kamar mayat juga harus mempunyai nyali yang teruji. Kebanyakan orang, mendengar atau melihat kamar mayat mereka langsung terbayang dengan jenasah dan ruangan yang angker. Tetapi lain halnya terhadap Arismono atau sering di panggil Aris (44), warga Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Dia menekuni pekerjaannya sebagai penjaga kamar mayat di RSUD Kraton Pekalongan sejak tahun 1985 sampai sekarang. Suka maupun duka dijalaninya dengan tabah, sabar dan tawakal. "Kerja di kamar mayat harus telaten berdasarkan hati nurani dan rasa kemanusiaan. Prinsip itulah yang saya tanamkan sejak diterima menjadi penjaga," katanya ketika ditemui Suara Merdeka di RSUD Pekalongan kemarin. Pria ramah ini menceritakan beberapa kejadian yang pernah dialaminya. Salah satunya ketika ada mayat karena tertabrak kereta api, kondisinya sudah sulit dikenali dan tanpa identitas. Dua hari setelah dikirim ke rumah sakit, mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat, dia mengaku dengan sabar menunggu sampai pihak keluarga korban mengambilnya. "Saya merasa kasihan sekali kalau ada jenasah tanpa identitas sampai tiga hari tidak diambil," tambahnya. Sedangkan untuk peristiwa yang berhubungan dengan mistis, Aris mengatakan, tidak pernah mengalami kejadian yang sifatnya aneh. "Karena saya sudah lama di sini, para penunggu (mahluk halus-Red) sudah kenal, karena itu saya tidak pernah diganggu," katannya sambil tersenyum. Tetapi pernah terjadi peristiwa yang dialami salah seorang kawannya. Pada saat itu, ketika sedang menunggu jenasah tiba-tiba dicolek-colek padahal disampingnya tidak ada seorang pun. Bergiliran Dalam bertugas, dia dibantu empat teman yakni Solikhin, Ufi, Rama dan Eko Carmadi. Jam kerja dilakukan dengan cara bergiliran. Soal gaji yang diterima dia mengaku nilai nominal hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum perjalanan pulang-pergi dari rumahnya ke RSUD yang berjarak sekitar 30 km. "Kalau cuma mengharapkan dari segi finansial, kerja seperti ini gajinya sangat kecil sekali," katanya. Selain itu dia juga merangkap menjadi cleaning service dan tukang parkir di rumah sakit tersebut. "Rezeki sudah ada yang mengatur kita hanya bisa berusaha saja semuanya telah ditentukan oleh yang di atas," kata Aris. RSUD Kraton Pekalongan sendiri belum mempunyai sarana dan prasarana pengawetan mayat seperti lemari pendingin. Ketika ada jenasah hanya diletakkan begitu saja tanpa ada tempat penyimpanan khusus. (Wawan Hudiyanto-14) |