logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 PANTURA
Line

Takijan, Tiang Ekonomi Keluarga

KELUARGA Takijan (32), maupun keempat nelayan lainnya tidak punya firasat apa-apa ketika mereka berangkat mencari ikan ke laut. Sebab, mereka memang terbiasa bergelut dengan ombak dan angin laut untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing.

Apalagi bagi Takijan, dia adalah tiang ekonomi keluarganya. Pergi miyang (melaut) adalah kewajibannya. Kalau tidak miyang mau diberi makan apa keluarganya. Padahal, selain punya istri dan satu anak, di rumahnya tinggal dua orang keponakannya dan ibunya, Raimah (55).

Maka, yang paling terpukul atas ditabraknya perahu sopek "Maharani" oleh kapal kargo hingga seorang nelayan tewas dan Takijan hilang, adalah Raimah. Perempuan tua itu terus menangis bila ditanya nasib anaknya. Bagaimana tidak sedih, dia adalah kepala keluarga yang menghasilkan uang selama ini. Kalau tidak ada Takijan, siapa lagi nanti yang akan menggantikan tugasnya.

"Doakan saja biar anak saya pulang. Di mana sekarang ya?," ucap Raimah dengan berlinang air mata.

Nasib nelayan yang ada di dalam perahu "Maharani" hari itu memang sial. Ketika berlayar dari Pelabuhan Tanjungsari Pemalang hingga berhenti di perairan Pekalongan, belum mendapatkan ikan. Padahal, waktu sudah berjalan enam jam dan mereka sudah berputar-putar menyusuri laut. Mereka pun kecapaian dan tidur pulas di atas dek perahu. Tidak lama kemudian datang kapal kargo dan langsung menabrak perahu. (Saiful Bachri-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA