| Senin, 12 Juli 2004 | WACANA |
SURAT PEMBACABCA agar Terapkan Sistem Antre DudukSaya nasabah BCA sejak 1994 ketika masih tinggal di Jakarta. Sekarang saya pindah ke Semarang dan masih setia menjadi nasabahnya. Selama ini yang saya lihat hanya jumlah nasabah dan ATM bertambah. Namun hal tersebut tidak diimbangi pelayanan terutama antrean panjang di setiap teller dengan posisi berdiri. Memang untuk pengambilan tunai sampai Rp juta sudah bisa dilayani lewat ATM, tetapi untuk menyetorkan uang Rp 100 ribu sekalipun harus melalui teller. Inilah yang menyebabkan antren panjang. Hal ini sering dikeluhkan ibu-ibu tua yang harus menyetorkan uang dengan membawa cucunya. Nampak wajahnya kelelahan. Belum lagi keluhan nasabah lain yang merasa kesal dengan antre berdiri. Sering mereka membandingkan dengan pelayanan bank lain yang menerapkan sistem antrean duduk (SAD). Menurut saya, sistem ini mestinya diberlakukan di bank sebesar BCA yang memiliki nasabah besar. Investasi untuk itu tidak terlalu mahal dan pasti mampu. Pernah terpikir untuk pindah ke bank lain namun karena kantor pusat tempat saya bekerja di Jakarta memakai BCA, maka mau tidak mau harus punya rekening bank ini. Bukan hal yang tidak mungkin kalau pikiran seperti ini juga menghinggapi nasabah yang lain. Sangat disayangkan, kebesaran BCA akan runtuh hanya karena kurang mengimplementasikan istilah "nasabah adalah raja". Mereka ingin menyetorkan uang ke BCA namun diperlakukan "berdiri" dalam antrean panjang. Semoga ketetapan hati untuk terus menjadi nasabah akan terbayar dengan perubahan yang dilakukan oleh manajemen bank ini yaitu dengan mengubah sistem antrean berdiri menjadi sistem antrean duduk. Iskandar Z Jl Eboni A-49, Plamongan Indah Semarang *** Untuk Ketua Umum DPP Partai Golkar Seingat saya, menjelang pemilihan umum tahun 1992 Golongan Karya mewajibkan pegawai negeri untuk memberikan iuran yang diambil dengan cara memotong gaji dan besarnya berjenjang. Jenjang paling rendah Rp 15.000. Berdasarkan informasi yang sampai pada pegawai negeri saat itu, uang tersebut akan disimpan di bank dan bunganya akan digunakan untuk keperluan Golkar, khususnya kampanye ketika berlangsung pemilihan umum. Kini Partai Golkar berbeda dengan Golkar dulu, tetapi secara kelembagaan keduanya berkesinambungan. Apalagi orang-orang elitenya sebagian besar masih sama. Karena itu, saya menyarankan agar Golkar sekarang benar-benar bersih. Alangkah baiknya jika uang 'dana abadi' tersebut dikembalikan kepada PNS yang bersangkutan. Saya percaya, bila Golkar benar-benar merupakan organisasi yang teratur, daftar anggota dengan jumlah iurannya pasti masih terarsipkan secara baik. Mudah-mudahan ingatan saya tidak keliru, jika ternyata tidak benar, mohon maaf. Mas Sukardi Duabelasan Rt 4/Rw 3 Jombor Bendosari, Sukoharjo *** Petugas Imigrasi Kurang Simpatik Saya pengguna jasa bandara Ahmad Yani Semarang, selama ini cukup puas dengan pelayanan pihak pengelola. Tetapi tanggal 14 Juni lalu saya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Saya tiba di bandara 18.10 WIB dengan penerbangan GA 875 dari Singapura. Turun dari pesawat saya langsung menuju antrean imigrasi yang saat itu ada dua antrean meja. Saya antre di meja sebelah kiri dan semua penumpang tertib. Tiba-tiba seorang petugas imigrasi yang berdiri di antrean sebelah kiri berkata: "Kartunya mana, keluarin kartunya ". Saya yang merasa jengkel karena ditanya dengan nada kurang sopan, balas bertanya kartu apa yang dia maksud. Petugas tidak menjawab, dia langsung mengambil paspor saya dan membuka. Akhirnya dia menemukan kartu tersebut, yang ternyata kartu kedatangan di mana saat saya berangkat ke Singapura, petugas imigrasi sendiri yang menstaplesnya pada paspor. Setelah itu petugas mengembalikan paspor seraya berkata: "Nanti jangan menyeberang ke antrean sebelah kanan ya... di sini saja". Jelas saya tambah jengkel. "Pak saya ngantre di sebelah kiri, buat apa pindah ke meja sebelah kanan. Apa saya nggak tahu aturan ?", balas saya dengan menahan marah. Terus terang saya marah. Mendadak dia mendorong bahu saya ke arah meja imigrasi. Wah..apa-apaan ini. Masa didorong-dorong, kesannya seperti di terminal saja. Saya tidak terima dengan perlakuan itu. Saya tahu petugas dituntut bersikap tegas dan berwibawa. Tapi apa yang saya alami adalah sikap yang kurang sopan. Seharusnya dia dapat menjalankan tugasnya dengan tetap memperhatikan kenyamanan penumpang. Faila Shofa PO Box 6, Kudus *** Klinik Pengobatan China yang Megah Melihat peresmian klinik pengobatan tradisional (batantra) China di TVRI 29 Juni 2004 oleh Bp Taufik Kiemas dan dihadiri ketua BPOM Bp Sampurna, hati ini menjadi sedih merasakan batantra asli Indonesia yang makin tergusur. Jamu gendong dan gurah masih tetap seperti tempo dulu. Pace (Phappros), Kuku Bima dan Tolak Angin (Sido Muncul) telah berubah eksistensi dari "jamu" yang berkonotasi obat menjadi permen/minuman. Bukan naik menjadi obat alternatif. Presiden Megawati dan Capres SBY terlihat di TV meminum "jamu gendong" yang jelas bukan di klinik batantra Indonesia, karena kita belum pernah punya. Pengembangan jamu/batantra Indonesia sangat lamban dan "amburadul serta tidak profesional". Berjalan di tempat tidak visioner. BPOM (dulu Ditjen POM) terobsesi dengan uji klinik. Padahal itu sangat mahal dan prosesnya sulit. Terjadilah bottle neck. Obat yang lolos, nilai evidence based medicine-nya tetap rendah karena tidak diketahui farmakokinetikanya yang diperlukan untuk menentukan dosis, frekuensi dan lama pemakaian setiap obat. Ditjen Binkesmas Depkes menangani batantra secara birokratik, lamban, visi dan misinya kurang jelas. Kebijakan yang berpola "toleransi, integrasi dan tersendiri" dengan pilar "regulasi, profesi dan SP3T" terlihat ambigos. Swasta, industri farmasi dan perorangan bekerja sendiri untuk kepentingan sendiri. Tidak berorientasi pada kepentingan kesehatan masyarakat dan perekonomian rakyat. Dalam banyak hal mereka kesandung dengan aturan birokrat yang normatif. Rakyat membutuhkan pengobatan alternatif yang aman dan bermanfaat. Pilar SP3T dapat diberi roh untuk mengembangkan batantra dengan "klinik percontohan". Suatu klinik yang berfungsi ganda untuk melakukan penelitian, pelayanan dan pendidikan pada pengobat tradisional (battra) dan masyararkat serentak. Secara pragmatis bottle neck dan birokrat yang lamban dapat diterabas dengan konsep budaya yang dikawinkan konsep sain farmakologi. Visi batantra Indonesia modern akan realistis, menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu terhormat di negeri orang. Semoga Bp Menkes dan ketua BPOM setuju dan menjalin sinergi di lapangan. Dr I Nasution Jl Tentara Pelajar 96, Semarang |