logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Investasi, Mengapa Harus Menunggu Lama

- Respons positif pasar uang dan pasar modal terhadap kelancaran pemilu khususnya pemilihan presiden tahap pertama telah terlihat dengan menguatnya rupiah dan juga meningkatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta. Sementara itu, kendati ada tekanan terhadap suku bunga yang cenderung mengalami kenaikan selain tekanan pada inflasi, situasi makro pada umumnya relatif stabil. Dengan demikian, kondusifitas usaha cukup baik dan tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Akan tetapi, mengapa sampai sekarang investasi baru belum juga muncul. Investasi dalam bentuk portofolio di bursa tidak bisa menjadi ukuran karena selain sifatnya yang amat cair dan berfluktuasi juga tidak bisa berdampak langsung seperti menyerap tenaga kerja dan meningkatkan PDB.

- Ada kemungkinan investor asing baru mulai masuk lagi ke Indonesia setelah Oktober 2004. Pemilu presiden putaran kedua pada 20 September dan presiden baru akan dilantik pada Oktober. Saat itulah baru akan didapat kepastian tentang siapa presiden dan bagaimana wajah pemerintahan yang akan datang. Apakah presiden terpilih dapat diterima pasar? Apakah kabinet yang akan dibentuk cukup cakap dan ahli sehingga menjanjikan? Apakah pemerintahan baru memiliki basis dukungan politik yang kuat di parlemen? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sedang ditunggu jawabannya sehingga akhirnya banyak investor dan pelaku usaha yang bersikap wait and see. Padahal masa menunggu itu masih cukup lama, yakni sampai menjelang akhir tahun.

- Pertanyaannya, mengapa harus menunggu terlalu lama. Tidakkah dua kali pemilu, yakni April dan Juli ini, cukup membuktikan bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang bisa membuat guncang negeri ini? Tidakkah terlihat bagaimana masyarakat Indonesia telah semakin sadar, pintar dan mampu mengendalikan diri? Pemilu berjalan dengan relatif aman, lancar, dan tenang. Nyaris tidak ada gangguan keamanan apa pun dan juga sikap elite politik yang sudah mulai terbuka menerima kekalahan dan sebagainya. Memang masih ada kekhawatiran, pada putaran kedua akan terjadi mobilisasi massa besar-besaran karena mesin politik bergerak lagi sehingga muncul kerawanan di lapangan. Namun, sebaiknya hal itu tidak terlalu dibesar-besarkan karena sangat mungkin kenyataannya justru berkebalikan.

- Masyarakat telah makin kritis. Tak mau sekadar menjadi kuda tunggangan. Hanya dimobilisasi demi meraih kemenangan tetapi setelah itu dilupakan dan ditinggalkan. Atas dasar itulah pada hemat kita, betapa pun pada putaran kedua pilpres relatif berpotensi untuk lebih tegang, tidak akan menimbulkan sebuah eskalasi yang mengarah pada kerusuhan dan aksi kekerasan. Tentu ini juga tetap harus diantisipasi oleh aparat keamanan di samping langkah-langkah para pimpinan dan elite partai politik untuk senantiasa menjaga diri. Kehangatan politik tentu tak terhindarkan karena pada putaran kedua akan banyak manuver-manuver untuk menciptakan koalisi baru. Biarkan itu hanya ramai di atas tanpa harus merembet ke tingkat massa akar rumput.

- Rasanya tidak ada alasan untuk menunggu terlalu lama. Para investor dan pelaku di sektor riil sudah saatnya bergerak dan membuka lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan demikian diharapkan bisa lebih tinggi dari yang diperkirakan. Tahun ini pertumbuhan hanya mungkin 4,5% sedangkan tahun depan baru bisa 5% atau lebih sedikit. Semua sebenarnya tergantung pada peningkatan produksi dan itu berarti investasi. Pertumbuhan saat ini lebih banyak didorong oleh sektor konsumsi. Inilah yang sering disebut kalangan pakar ekonomi sebagai pertumbuhan semu dan tidak berkesinambungan. Lain halnya bila pertumbuhan didorong oleh investasi baru, peningkatan produksi, dan ekspor. Barulah itu berarti riil dan terjadi penguatan fundamen ekonomi.

- Kalau stabilitas ekonomi, politik, dan sosial relatif terjaga, apalagi alasan untuk menunggu terlalu lama. Sayang, meyakinkan pengusaha dan investor juga tidak mudah. Mereka punya naluri atau insting tersendiri. Mereka punya perhitungan-perhitungan sendiri yang pada hakikatnya selalu menghindari risiko. Apalagi selain Indonesia, banyak kawasan baru sebagai tujuan investasi, seperti Vietnam atau China. Kita masih memiliki keunggulan karena tetap merupakan big market dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa. Sekali lagi amat disayangkan bila banyak investor yang masih akan menunggu sampai Oktober. Apa-apa yang belum pasti belum dapat dijadikan pegangan. Namun, tidakkah disadari masyarakat semakin dapat membedakan urusan politik dengan ekonomi?


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA