| Senin, 12 Juli 2004 | WACANA |
TAJUK RENCANATentang Anak-anak Cemerlang Itu- Jagat ilmu pengetahuan kita belumlah runtuh. Meskipun kondisi negeri ini belum normal, tetapi tidak menghalangi munculnya anak-anak cerdas dengan prestasi sangat membanggakan. Satu demi satu anak cemerlang muncul ke permukaan. Sekolah demi sekolah melahirkan anak-anak yang memiliki bakat ilmu pengetahuan secara mengesankan. Dalam tahun ini saja, banyak prestasi diukir oleh anak-anak Indonesia yang meraih penghargaan tingkat dunia, baik dalam olimpiade fisika maupun matematika. Secara perlahan, kita mulai memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang semakin baik. Hal itu juga diperlihatkan oleh munculnya beberapa figur yang mampu melakukan dorongan ke arah tersebut, seperti Yohanes Surya yang bersedia membimbing anak-anak mencapai prestasi besar di bidang fisika. - Keadaan itu semakin membanggakan, dan tidak ada salahnya kalau kita merenung sambil menengok ke belakang sejenak untuk berkaca diri. Ketika bangsa ini masih dijajah Belanda, kita memiliki seorang RM Sosrokartono, yang tidak lain adalah kakak RA Kartini. Beliau lulusan Universitas Leiden Belanda, dan merupakan sarjana pertama yang dimiliki Indonesia. Kemampuannya amat mengagumkan, karena menguasai sekitar 25 bahasa asing secara aktif. Beliau termasuk salah satu guru bahasanya Ir Soekarno. Bisa dibayangkan kondisi saat itu, ketika buku-buku bahasa belum bertebaran seperti sekarang ini, Sosrokartono telah melewati batas-batas orang normal. Seandainya pun sekarang ini kita memiliki figur yang menguasai 25 bahasa asing, masih termasuk manusia langka. - Belum lama ini kita juga dikejutkan oleh prestasi yang diraih Septinus George Saa (19), seorang siswa SMAN 3 Buper, Jayapura. Lahir dari pasangan Silas Saa dengan Nelly Wafom, George tumbuh menjadi anak yang brilian di tengah keterbatasan. Rumus yang diberi nama George Saa Formula, yang dituangkan dalam makalah Infinite Triangle and Hexagonal Latice Network of Identical berhasil memenangi penghargaan First Step to Nobel Prize in Physics dalam kompetisi fisika internasional di Polandia. Rumus itu merupakan pengembangan Hukum Kirshoff, dan dirancang untuk menyederhanakan penghitungan resistor dari dua titik dalam sebuah jaringan. Dia menyisihkan 78 peserta dari seluruh penjuru dunia, dan tentu saja amat membanggakan. - Kini, prestasi lain yang membanggakan juga datang dari seorang anak bernama Nolang Fanani, siswa SMA Negeri I Surakarta. Siswa itu menorehkan prestasi mengesankan, ketika memenangi Olimpiade Matematika Asia Pasifik. Kini, si anak cerdas tersebut tengah mengikuti hari-hari menegangkan di Athena untuk mengikuti kejuaraan serupa tingkat dunia. Lalu, ada juga Aditya Dharma Surya yang menjuarai World School Debating Contest, dan pada bulan ini berangkat ke Beijing, Cina untuk merebut tempat di tingkat dunia. Apa yang harus kita katakan mengetahui anak-anak kita begitu memesona, memiliki kecerdasan yang mengesankan, dan perlunya dijaga agar energi besarnya itu sampai ke titik puncak. - Ketika mengetahui prestasi itu, seharusnya menuntun kita untuk bertanya lebih jauh, seberapa besar kita semua termasuk Pemerintah memberikan apresiasi yang wajar kepada anak-anak tersebut. Jelas, itu bukan prestasi kampung, atau prestasi nasional yang didulang lewat SMS (pesan singkat lewat seluler). Ketika kita bergegap gempita menyambut Tia menjuarai Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2, kenapa kita begitu dingin terhadap anak-anak kita yang lain, bahkan mungkin tidak mendengar tentang mereka? Sama sekali kita tidak memberikan penilaian jelek atas prestasi Tia, Armed, Rivana, atau Chrisjon. Tetapi, bagaimana apresiasi kita terhadap pencapaian prestasi di kejuaraan dunia? Tidak ada sambutan meriah, tidak ada pengumpulan dana, walikota bahkan gubernur juga adem ayem saja. Sungguh, kita terheran-heran melihat keadaan itu. - Rasanya kita perlu mengoreksi diri, terutama terhadap sikap-sikap yang seharusnya dikembangkan dalam menghargai prestasi anak bangsa. Memberikan penghargaan, bukan semata-mata menghargai prestasinya, tetapi lebih dari itu, memberikan motivasi untuk makin berkembang lebih jauh. Prestasi anak-anak yang mengesankan itu, seharusnya segera menyadarkan diri kita, termasuk para orang tua, lembaga pendidikan, dan Pemerintah untuk segera mengaji ulang terhadap seluruh sistem pendidikan kita. Kita yakini, prestasi anak-anak itu bukan sekadar lahir dari faktor genetis, tetapi juga dari tradisi ilmu pengetahuan di lingkungan terdekat. Tidak ada salahnya, kalau para orang tua juga belajar bagaimana anak-anak brilian tersebut dibesarkan dalam tradisi ilmu pengetahuan sejak dini. |