logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 NASIONAL
Line

Islah Gus Dur - Hasyim Muzadi

Membutuhkan Mediator Kiai Kultural

SURABAYA- Bukan perkara mudah mengislahkan (merujukkan) Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan cawapres PDI-P yang juga Ketua Umum PBNU Nonaktif KH Hasyim Muzadi, . Sebab, kedua tokoh NU ini memiliki banyak hambatan psikologis untuk dipersatukan. Karena itu, perlu ada peran mediasi dari kiai-kiai kultural NU untuk merujukkan mereka.

Demikian pandangan yang disampaikan pengamat masalah-masalah NU dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Muhammad Asfar MA ketika dihubungi Suara Merdeka, Minggu (11/7) petang. "Agak susah memang menyatukan kembali Gus Dur dengan Hasyim Muzadi menghadapi pemilihan umum presiden dan wakil presiden putaran kedua. Tanpa keterlibatan kiai-kiai kultural NU sebagai mediator tampaknya berat menyatukan keduanya," katanya.

Seperti diberitakan, peluang besar capres-cawapres PDI-P Megawati Soekarnoputri - KH Hasyim Muzadi masuk putaran kedua bersaing dengan duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla membuka wacana pentingnya penyatuan banyak tokoh dan ulama NU.

Islah Gus Dur dengan Hasyim Muzadi menjadi kebutuhan strategis jika duet Mega-Hasyim ini ingin memenangi pertarungan. Sebab, tanpa restu Gus Dur sangat berat bagi pasangan itu merengkuh dukungan politik maksimal dari warga NU di Jatim dan Jateng. Padahal, kedua provinsi ini memiliki jumlah pemilih 50 juta orang lebih.

Menurut pendapat Asfar, ada banyak beban psikologis untuk melapangkan jalan bagi membaiknya hubungan Gus Dur dan Mega-Hasyim Muzadi. Keterlibatan Mega menggulingkan Gus Dur dari kursi kepresidenan pada SI MPR 2001 dan memburuknya hubungan Gus Dur dengan Hasyim Muzadi setahun terakhir adalah problem berat untuk mengislahkan Gus Dur-Hasyim Muzadi.

"Dalam perspektif demikian, dibutuhkan kiai-kiai kultural NU sebagai mediator. Kiai NU ini sangat dihormati dan pengaruhnya sangat kuat, seperti KH Abdullah Faqih dari Langitan Tuban, KH Chotib Umar dari Jember, KH Mustofa Bisri dari Rembang, dan kiai-kiai lain," paparnya.

Tiga Faktor

Pengaruh Gus Dur kepada pemilih NU di Jatim dan Jateng pada pemilu presiden dan wakilm presiden putaran kedua sangat signifikan. Sekiranya mantan Ketua Umum PBNU itu menyerukan untuk memilih golongan putih (golput) dan seruan itu disampaikan sejak dini, kemungkinan besar jutaan pemilih NU di Jatim dan Jateng akan mengikuti fatwa Gus Dur tersebut. "Demikian pula sebaliknya, jika Gus Dur merapat ke kubu Mega-Hasyim dan itu disosialisasikan sejak dini ke massa bawah NU, saya optimistis suara mereka mengalami kenaikan signifikan," ujarnya.

Dalam perspektif demikian, ujar Asfar, peluang islah Gus Dur - Hasyim Muzadi terbuka peluangnya ditentukan tiga faktor. Pertama, keterlibatan kiai kultural NU sebagai mediator. Kedua, portofolio susunan kabinet Mega-Hasyim Muzadi harus jelas.

"Maksudnya, konsesi apa yang diberikan kepada Gus Dur. Misalnya mengenai pos-pos kabinet yang diberikan kepada PKB," tegasnya.

Dan, faktor ketiga adalah mengemas isu pemilu presiden dan wakil presiden putaran kedua sebagai kebangkitan NU dalam ranah politik.

Agenda politik ini efektif diusung jika lokomotifnya adalah para kiai-kiai kultural NU yang pengaruhnya kuat dan disegani warga nadhliyyin pada level bawah.

"Cuma, problemnya adalah Jusuf Kalla juga bisa mengidentifikasi diri sebagai warga NU karena dia aktif di NU Sulawesi Selatan," ujar Asfar.

Menolak

Kubu Mega-Hasyim mengaku akan merujukkan Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur dengan Hasyim selaku Ketua Umum PBNU nonaktif sebelum pilpres putaran II digelar 20 September. Untuk menjaring dukungan penuh dari NU dan PKB, maka rujuknya kedua tokoh itu diperlukan untuk memuluskan Mega-Hasyim ke Istana Negara. Namun Gus Dur menolak berdamai dengan Hasyim.

"Hasyim itu tidak jujur, saya tidak akan deal kapan pun dengan dia," kata Gus Dur kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (11/7).

Gus Dur berkeras pada putaran pelpres kedua dirinya tetap akan golput. Ini merupakan konsekuensi penolakan Gus Dur terhadap pelaksanaan pilpres yang diskriminatif. "Itu urusan PKB, saya tetap golput," jawabnya enteng ketika ditanya wartawan pada putaran kedua nanti, apakah PKB akan mendukung SBY-Kalla. (G14-78j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA