logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 NASIONAL
Line

Ketika Kebahagiaan Berubah Jadi Duka

RESEPSI pernikahan putri kedua H Tamri (50), yakni Panestuti (24), yang dipersunting Munirul Anam (26) asal Ngawi, Jawa Timur, baru saja dimulai ketika truk tronton bermuatan semen menabrak tempat penyelenggaraan resepsi. Tamu yang baru saja datang dan kebanyakan merupakan kerabat dekat di wilayah itu menjadi korban.

Tamri dan kerabatnya tersebut bertempat tinggal di Dusun Dedor, Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Adapun tanjakan di depan rumah tempat resepsi pernikahan berlangsung dikenal dengan sebutan tanjakan Kethekan. Di situ memang sering terjadi kecelakaan.

Pada saat musibah terjadi, dia mengaku tidak banyak mengetahui awal peristiwanya. Pada saat itu, dia bersama istrinya, kedua mempelai, dan besan baru saja selesai dirias dan akan menuju ke ruang pelaminan.

Begitu pranatacara, Joko, yang memimpin acara resepsi baru memulai beberapa saat, truk tronton yang mundur tanpa bisa dikendalikan langsung menerjang tamu undangan yang baru saja hadir.

Beberapa saat setelah kejadian itu, ketika terdengar teriakan dan jeritan, Tamri berusaha melihat apa gerangan yang terjadi. Setelah melihat korban bergelimpangan dan truk tronton melibas tenda resepsi di depan rumahnya, dia hanya berharap tidak ada yang mengalami cedera berat. Dia juga tidak menyangka, yang menjadi korban dalam tragedi tersebut kebanyakan saudara-saudara dekatnya yang bertempat tinggal dalam satu dusun.

Bahkan salah seorang korban, tidak lain cucu kesayangannya yang baru berusia beberapa tahun. ''Kejadian tersebut begitu cepat sehingga saya tidak dapat berbuat banyak. Sekarang saya hanya bisa berdoa,'' ujar dia.

Beberapa jam setelah kejadian itu, Tamri termenung di teras depan rumahnya sambil meratapi cobaan yang sedang dihadapinya.

''Saya hanya bisa berdoa agar Allah SWT dapat menerima mereka di sisi-Nya, sedangkan yang ditinggalkan supaya diberi ketabahan,'' ungkapnya.

Kesedihan juga dirasakan Hartono (55) yang rumahnya bersebelahan dengan Tamri dan juga kerabat keluarga. Dia kehilangan putrinya, Desi Wulandari (20), karyawati PT ASA (perusahaan tekstil di Ungaran).

Dalam acara resepsi pernikahan tersebut anaknya menjadi penerima tamu. Sebagai penerima tamu, tentunya Desi berada di lokasi yang sangat berbahaya, tepat di bibir jalan.

Setelah kejadian tersebut, Hartono mencari putrinya karena yakin Desi pasti ikut tertabrak truk tronton itu. Sembari mencari, dia hanya berharap semoga putrinya selamat. Namun apa yang terjadi?

Tidak berapa lama, dia menemukan putrinya berlumuran darah. Spontan dia langsung mengangkat dan menaikkan putrinya ke sebuah kendaraan angkutan dan membawanya ke RSUD Ambarawa.

Berat beban yang dihadapi Hartono, ketika tangan Tuhan mengambil putri kesayangannya. Meskipun telah pasrah dan tetap tegar menerima kenyataan tersebut, kesedihan itu tidak bisa dihilangkan dari bayang wajahnya.

Di depan rumahnya, masih terlihat tumpukan sepatu, sandal, dan alas kaki lainnya yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Mengenaskan memang melihat tumpukan alas kaki tersebut yang semula dipakai para korban untuk menghadiri acara syukuran pernikahan di Minggu nahas itu. Dan, ketika kebahagiaan itu berubah menjadi duka, mereka pun tak mampu berbuat apa-apa. Tamri, Hartono, dan siapa saja yang kehilangan keluarganya, hanya bisa meratapi musibah itu sambil berdoa. (Surya Yuli P-33j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA