| Senin, 12 Juli 2004 | SEMARANG |
SMPN 1 Sekolah Standar NasionalUNGARAN-Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan SMP Negeri 1 Ungaran sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN) bersama empat belas SMP negeri lain di Jateng. Penetapan itu dilakukan setelah tim pemantau dan evaluasi Depdiknas Jakarta mengunjungi SMPN 1, baru-baru ini. Dari hasil evaluasi, sekolah yang menempati bangunan tua di Jalan Diponegoro 197 Ungaran, memenuhi standar. Selain ditunjang sarana pendidikan yang memadai, seperti ruang belajar, dan laboratorium, juga kemampuan akademik serta tenaga pendidik yang baik. Sebelumnya, Diknas Kabupaten Semarang mengusulkan tiga SMPN sebagai SSN. Dua lainnya, SMP Negeri 3 di Ungaran dan SMP Negeri 2 di Ambarawa. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama melalui surat Nomor :952 /C3 /LL /2004, tanggal 25 Juni 2004 minta agar sekolah tersebut segera mempersiapkan diri. Untuk persiapan itu, kata Kepala SMP Negeri 1 , Drs Agus Wisnugroho yang didampingi Ketua Komite Sekolah (KS) Drs H Haris Mohanti BBA dan Ir Didik Sukardi, mulai 19- 25 Juli sepuluh guru yang mengampu mata pelajaran tertentu mengikuti penataran di Yogyakarta. Agus dan Haris menyambut gembira keputusan tersebut. ''Selama ini, kami sepakat bahwa keluarga besar SMPN 1 ingin melakukan yang terbaik untuk kemajuan anak didik,'' ujar Haris. Upaya kerja keras para guru dibantu orang tua murid akhirnya membuahkan hasil. Dalam setahun terakhir ini berhasil meraih sedikitnya 43 trofi dan piagam penghargaan. Prestasi terakhir mengantarkan Rhorom Priyatikanto sebagai juara nasional lomba Astronomi dan menjadi duta Indonesia ke Olimpiade Astronomi di Ukraina. Pelajaran Tambahan Mulai tahun ajaran baru ini, lanjut Agus, sekolahnya akan memberikan pelajaran tambahan Bahasa Arab. Untuk mengampu pelajaran tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan sebuah lembaga perguruan tinggi di Salatiga. Dengan diberikan sejumlah pelajaran tambahan, diharapkan tidak saja mampu bersaing dalam bidang akademik, tetapi bidang lain seperti seni , olahraga, dan keterampilan lain. Untuk melestarikan seni tradisional yang kurang diminati generasi muda, sekolah itu juga menyediakan satu perangkat alat musik karawitan berikut guru pembimbing. Hal ini dilakukan agar seni tradisional tetap akrab pada murid setempat. (C17-91) |