logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 SEMARANG
Line

Menggugat Tayangan Misteri di Televisi

''Jailangkung, jailangse, di sini ada pesta kecil. Datang tak dijemput, pulang tak di antar. Kalau sudah masuk mengangguklah.''

TAK berapa lama setelah mantra itu dibacakan berulang-ulang, boneka seram yang terbuat dari siwur (gayung terbuat dari batok kelapa bertangkai bambu-Red) itu pun bergerak-gerak. Dua orang yang sedari awal memeganginya dengan erat seperti kewalahan. Sebatang spidol yang diikatkan pada bagian depan boneka itu menjadi penyeranta pesan dari arwah yang merasuk ke dalamnya. Suasana mencekam pun seketika terbangun.

Sepenggal tayangan ''Dunia Lain'' episode pertama itu dipresentasikan Ishadi SK di hadapan ratusan peserta Seminar Nasional ''Tayangan Misteri dalam Perspektif Agama, Psikolog, Budayawan, Paranormal, dan Praktisi Industri TV'' di Gedung Dharma Wanita, Jl Menteri Soepeno, Sabtu (10/7).

Hal itu sengaja dia lakukan dalam upayanya melakukan ''pembelaan diri.'' Sebab, sebagai orang yang dituduh bertanggung jawab atas maraknya tayangan misteri di televisi, dia merasa harus bertanggungjawab.

Dalam kesempatan itu, Ishadi menunjukkan betapa acara ''Dunia Lain'' yang ditayangkan stasiun Trans TV itu tidak semata-mata dimaksudkan untuk menciptakan kengerian para pemirsa. ''Lihat saja, di dalamnya ada pendapat para ulama, masyarakat, dan antropolog. Selain itu, semua adegan yang ada di dalamnya murni apa adanya. Tidak ada rekayasa sama sekali,'' tegasnya.

Ishadi mengakui, banyak tayangan-tayangan misteri di televisi yang tidak mendidik. Namun demikian, dalam perkiraannya, acara-acara semacam itu akan berhenti pada akhir tahun ini. Intensitas tayangnya yang begitu rapat menyebabkan cepat atau lambat akan segera ditinggalkan pemirsa.

''Dalam catatan saya ada 37 acara misteri yang ditayangkan televisi dalam satu minggu. Namun dari waktu ke waktu, kecenderungan rating-nya terus mengalami penurunan. Masyarakat telah jenuh, terlebih saat ini muncul tayangan-tayangan lain model-model AFI.''

Memang, seminar yang diadakan Prodi Psikologi FK Undip dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jateng itu hendak mempersoalkan dampak maraknya tayangan-tayangan misteri di televisi. Tayangan-tayangan semacam itu dijustifikasi sebagai tidak mendidik dan menyesatkan. Rohaniwan Budi Ashari LC menganggap tayangan misteri sebagai pemicu kemusrikan. Dampak yang ditimbulkannya tidak hanya dalam sisi psikologis semata-mata, melainkan juga merusak akidah.

''Biasanya muncul paranormal dengan penampilan seperti ustad, mengenakan sorban dan memegang tasbih. Tapi ritual yang dilakukannya tidak mencerminkan syariat Islam.''

Psikolog dan budayawan Darmanto Jatman menilai tayangan misteri menciptakan masyarakat berkepribadian ganda (split personality), paranoia, serta desakralisasi. ''Masyarakat tradisional percaya kalau pohon beringin itu ada danyangnya, kuburan ada demitnya. Dengan tayangan-tayangan itu, mereka mendapat pembenaran untuk menghapus kesakralan. Kuburan dikencingi,'' tuturnya.

Raffi Ananda, paranormal yang acap mengisi acara-acara misteri pada beberapa televisi lokal pun menyayangkan beberapa tayangan yang dinilainya kebablasan.

Menurutnya, paranormal memiliki semacam kode etik tertentu yang tabu untuk dilanggar. Dia lantas mencontohkan tayangan misteri yang tidak sesuai dengan kode etik tersebut. ''Masalah pesugihan misalnya, seharusnya tidak layak diungkap secara vulgar. Endapan pengalaman itu akan tetap membuka ruang bagi kesesatan,'' tandasnya. (Rukardi-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA