| Senin, 12 Juli 2004 | SEMARANG |
Menajamkan BakatKALI pertama mengajar siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tahun 1987, Drs Ciptono mengaku sempat dibuat pusing dan sakit kepala. Betapa tidak? Saat itu Ciptono muda, masih menjadi guru wiyata bakti di SLB C Wantuwirawan, Salatiga dan hanya mendapat gaji Rp 7.000/ bulan. Sementara mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, kata Ciptono, jauh lebih sulit ketimbang mengajar anak-anak normal. ''Gaji saya waktu itu hanya cukup untuk makan dan ongkos transportasi. Menjadi guru SLB itu melatih kesabaran dan menguji keikhlasan,'' kenangnya. Saat ditemui di kantor SLB C YPAC Semarang, Ciptono sedang mengawasi siswa-siswinya berlatih menjelang pementasan di Mal Ciputra, Senin (12/7) sore. Kepala SLB C YPAC itu mengaku ingin memanfaatkan setiap kesempatan untuk memamerkan keahlian anak-anak didiknya. Tidak heran, begitu mendapatkan tawaran pentas dari Yamaha Mal Ciputra, Ciptono mengaku antusias. ''Mumpung ada kesempatan bagus. Kami tidak akan sanggup menyewa stan jika tidak ada yang mau mendanai,''ujar dia. Sederet piala dan piagam penghargaan yang dipajang di ruang kerjanya menunjukkan prestasi yang telah diraih oleh para siswa SLB. Berkat tangan dingin Ciptono, bakat menyanyi, menggambar, olah raga, bahkan modeling diasah baik-baik. Ibarat pisau yang setiap saat mendapat perawatan, bakat anak-anak usia SD sampai SMA itu pun makin menajam. Beberapa tahun silam, seorang siswa tunagrahita asuhannya yang mampu menghapal 200 judul lagu pun meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri). Beberapa tunagrahita lain, kata Ciptono, juga memiliki keahlian khusus. Seperti merangkai bunga, menyulam, menjahit, atau menggambar dengan dua tangan sekaligus. Sementara seorang tunadaksa mampu merangkai monte (manik-manik) dengan dua kaki dan mengangkat kursi dengan gigi. ''Saya tidak ingin berhenti sampai di sini. Saya ingin masyarakat melihat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus sesungguhnya adalah mutiara,''ujarnya. Itulah prinsip yang dipegang Ciptono. Alumnus Jurusan Pendidikan Khusus IKIP Yogyakarta ini berharap anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak yang sama dengan warga negara lain. Segala upaya dilakukan bersama orang tua dan keluarga anak-anak berkebutuhan khusus. ''Kami sedang menyiapkan album perdana siswa tunanetra dan tunagrahita yang memiliki keahlian menyanyi,''ucapnya dengan nada bangga. Cita-cita itulah yang mendorong dia untuk mencoba segala usaha, mulai dari mendekati produser, mencari sponsor, dan rajin mengabarkan kiprah anak didiknya melalui media massa. Dalam hal akses pekerjaan, dia berharap orang-orang berkebutuhan khusus tidak diperlakukan diskriminatif. (Ninik D-73) |