logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 KEDU & DIY
Line

Masyarakat Perlu ''Gizi'' Sastra dan Budaya

YOGYAKARTA - Bangkitnya negara maju dan modern selalu dikaitkan dengan keberhasilan masyarakat dalam mengalihbahasakan secara besar-besaran tulisan-tulisan di bidang ilmu, teknologi dan sastra asing ke dalam bahasa negara yang bersangkutan. Karya sastra dan budaya tersebut merupakan ''gizi'' bagi masyarakat berkembang termasuk Indonesia.

''Salah satu cara meningkatkan "gizi" itu adalah menerjemahkan karya sastra asing ke Indonesia,'' tutur staf pengajar Jurusan Sastra Prancis Fakultas Budaya UGM, Dr RAy Siti Hariti Sastriyani SS Mhum.

Dia yang baru saja lulus sebagai doktor dengan predikat sangat memuaskan mengungkapkan sudah banyak karya sastra asing diterjemahkan ke Indonesia. Begitu pula sastra Prancis namun kebutuhan akan hal itu masih akan terus bertambah.

Teks-teks karya sastra francophone (karya sastra masyarakat yang menggunakan Bahasa Prancis-Red) yang masuk ke Indonesia disambut positif masyarakat negeri ini.

''Memperkenalkan kesusastraan francophone kepada masyarakat Indonesia berarti memahami dan mengetahui hasil karya sastra terjemahan dari bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia, membuka cakrawala bagi pengembangan bahasa dan sastra modern, memahami warisan sastra sebagai hasil budaya,'' papar doktor pertama Sastra Prancis di UGM dan Yogyakarta itu.

''Sangat banyak yang bisa dialihbahasakan mulai dari dongeng, cerita, komik, roman, teks drama, esei bahkan puisi,'' jelas dia.

Sastra Prancis menampilkan berbagai pandangan mengenai tokoh-tokoh yang memiliki keteladanan, kepandaian, moral, pandangan-pandangan yang membangun bangsa, isu-isu politik, gender, sosial, budaya, agama dan menyajikan citra tokoh berjiwa besar serta bersemangat tinggi dalam menyampaikan hasrat yang mulia.

Aktivis sekaligus peneliti di Pusat Studi Wanita UGM itu berharap akan semakin banyak bermunculan orang-orang yang peduli karya sastra Prancis. Banyak persoalan yang bisa diungkap di negara tersebut dan bisa dimulai dari menerjemahkan karya-karya sastranya.

''Terjemahan memang cukup banyak tetapi masih sedikit yang mau mencebur secara total ke dalamnya. Inilah yang harusnya segera dilakukan agar masyarakat terbuka cakrawalanya,'' jelas ibu dari Rr Arifah Candrakusuma dan suami Arbak Yhoga Widodo SE MM itu.(D19-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA