| Senin, 12 Juli 2004 | KEDU & DIY |
Anak Disibukkan Obsesi OrangtuanyaBERMAIN bagi anak-anak merupakan kegiatan menyenangkan. Mereka bisa memanfaatkan waktu senggang dengan berlarian di sekitar rumah, gang kampung, tanah lapang bahkan selokan. Tak jarang mereka berteriak-teriak sambil berkejar-kejaran dengan temannya. Sayangnya, situasi tersebut saat ini mulai jarang dijumpai terutama di perkotaan, perumahan bahkan perkampungan. Anak-anak sekarang ini sibuk dengan kegiatan yang menjadi obsesi orang tuanya. Ada anak yang harus mengikuti les ini, les itu, seharian penuh. Mereka tak lagi mempunyai ruang dan waktu untuk bermain. ''Bermain adalah pekerjaan anak-anak dan melalui bermain itu pula anak-anak dapat mengembangkan kemampuannya sebagai bekal menjelang mereka dewasa,'' tutur psikolog, pengajar pada Tumble Tots Indonesia, Novita Tandry, ketika berbicara dalam seminar tentang anak-anak di Hotel Novotel baru-baru ini. Tumble Tots adalah program bermain untuk anak-anak yang bersifat fisik. Dalam program untuk anak-anak usia 6 bulan sampai dengan tujuh tahun itu terdapat beberapa tingkatan yang masing-masing berbeda programnya. Intinya, seorang anak diajarkan bermain secara efektif. Di Yogyakarta, Tumble Tots bisa ditemui di Jalan Prof Yohanes 1109, Sagan. Psikolog senior Dra Indun Lestari S menambahkan, keterampilan anak membaca, menulis dan menghitung merupakan landasan seseorang. Sehingga mampu meningkatkan intelektulitasnya secara mandiri. Kemampuan seorang anak menjalankan ativitasnya juga terkait erat dengan kondisi fisik yang bersangkutan. Diuraikannya pula, fungsi motorik dan sensorik sangat penting dalam perkembangan anak. Motorik adalah fungsi otak untuk mengatur dan mengontrol gerak-gerak otot, seperti gerakan kasar misalnya berlari, meloncat serta gerakan halus yakni menulis dan bicara. ''Sensorik yakni fungsi untuk mengerti dan mengolah berbagai informasi yang diterima oleh alat-alat indera dan disampaikan ke otak,'' jelasnya. Gangguan pada fungsi-fungsi tersebut dapat menghambat belajar anak dan tentu saja mengganggu perkembangannya. Karena itu perlu dilakukan terapi apabila ada anak terganggu fungsi motorik maupun sensoriknya.(Agung PW-76) |