| Senin, 12 Juli 2004 | KEDU & DIY |
Pernah Temukan 170 Telur Kura-kuraKEBUMEN - Lelaki kerempeng ini namanya Bero, berusia sekitar 40 tahun. Dia warga Desa Munggu, bersebelahan dengan Desa Karanggadung, dan kini bertugas menjaga vila milik Zafar Abidin di dekat Pantai Petanahan. Diam-diam, meski dia bukan orang yang menangkap kura-kura raksasa itu, ternyata pernah menemukan telur kura-kura laut. ''Saya pernah menemukan 170 butir telur kura-kura,'' ucap ayah dua anak itu. Maka, tidaklah salah bila beberapa hari ini kura-kura yang ditemukan warga di Pantai Petanahan tersebut dirawat Bero. Apalagi dulu dia kerap menemukan telur-telurnya di pantai. Lalu untuk apa telur kura-kura tersebut? Menurut dia, telur kura-kura itu sebesar telur ayam kampung, namun lebih gembur. Dia dulu mengaku sering menemukan telur-telur itu pada malam hari. Bila telah terkumpul, dia jual ke warga atau orang di pasar yang membutuhkan. Tiap butir telur laku Rp 500 ''Katanya untuk obat kuat. Malah ada yang bilang khasiatnya lebih hebat dari ginseng,'' ujar buruh tani itu. Hal itu juga dibenarkan Ny Delik (70), nenek dari Desa Munggu. Dia juga sering menjual telur kura-kura dan biasanya pembelinya orang laki-laki atau orang yang sakit kulit.''Ndhoge diuntal, nggo jamu ben kuat (telurnya di telan, untuk jamu biar kuat,'' kata nenek yang kemarin melihat kura-kura bersama tetangganya. Ada Bekas Bero menuturkan, seingat dia memang di kawasan Pantai Petanahan sering ada kura-kura terdampar karena bertelur. Namun, dulu warga tak begitu menghiraukan, dan membiarkan kura-kura itu masuk laut kembali. Bagi warga di dekat Pantai Selatan seperti dia, sudah hafal mana pasir bekas kura-kura bertelur. Biasanya, meski samar-samar ada bekas telapak kaki kura-kura sehabis bertelur yang kabarnya menyerupai telapak kaki harimau. Namun, kadang telapak kaki kura-kura itu sulit dilacak. Sebab, bagaimanapun kura-kura ingin melestarikan keturunannya dengan bertelur dan mengerami. Biasanya, lanjut Bero, sehabis bertelur, kura-kura itu menyiasati telurnya biar aman dengan menutupi bekas telapak kakinya menggunakan pasir laut. Menurut Gidalsudi (34), warga lain di dekat Pantai Petanahan, sekitar tahun 2000 juga pernah ada kura-kura berukuran besar mendarat di pantai. Biasanya, kura-kura itu bertelur pada musim-musim dingin seperti sekarang ini.(B3-76k) |