logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 INTERNASIONAL
Line

Tipis Harapan Warga Filipina Lolos dari Maut

BAGDAD - Seorang warga Filipina, yang disandera kaum militan di Irak, semakin terancam jiwanya Minggu kemarin. Pasalnya, Manila menolak tuntutan para penculik agar tentara Filipina dipulangkan lebih cepat dari jadwal.

Ancaman hukuman pancung juga membayangi dua warga Bulgaria yang disandera. Ketiga sandera tersebut, yang ditahan di tempat terpisah oleh para penculiknya, sama-sama berprofesi sebagai sopir.

"Sejalan dengan komitmen kami kepada rakyat bebas Irak, kami mengukuhkan rencana kami untuk mempekerjakan kontingen kemanusiaan Filipina di Irak sesuai jadwal, yaitu hingga 20 Agustus 2004," kata Menlu Delia Albert pada konferensi pers di Manila.

Kaum militan menyandera Angelo de la Cruz dan mengancam memancung sopir warga Filipina itu Minggu malam (waktu setempat), kecuali apabila Manila menarik pulang 51 anggota militernya pada 20 Juli.

De la Cruz sebenarnya dikabarkan hampir saja dibebaskan pada Sabtu malam (Minggu pagi WIB), sebelum para penyanderanya mengubah pikiran dan mengeluarkan ancaman baru.

"Kemarin itu hanya harapan palsu. Dia tidak dibebaskan. Tetapi kami berharap dia dibebaskan dengan segera," harap seorang pejabat Kedubes Filipina di Bagdad, Minggu.

Menurutnya, dia tidak mendengar kabar apa pun mengenai de la Cruz, sejak para penculik memperpanjang tenggat waktu pemancungan terhadap sopir berusia 46 tahun itu.

Nasib dua warga Bulgaria yang disandera juga belum jelas. Tetapi, Pemerintah Bulgaria mengatakan telah mendapatkan lebih banyak pertanda yang menunjukkan keduanya masih hidup, sekalipun tenggat waktu Jumat malam telah berlalu.

Marinir AS Pulang

Sementara itu, Kopral Marinir AS Wassef Ali Hassoun diharapkan Rabu lusa dapat pulang ke AS, setelah mendapatkan brifing di sebuah RS militer Amerika di Jerman.

Kopral itu, yang dibebaskan tanpa cedera oleh kaum militan Irak setelah diculik pada 20 Juni lalu, tiba-tiba muncul dan menyerahkan diri kepada Kedubes AS di Beirut, Kamis lalu.

Dari Beirut dia langsung diterbangkan ke RS Militer AS di Landstuhl, Jerman selatan, sehari kemudian. Selain menjalani pemeriksaan kesehatan, kopral muslim berdarah dan kelahiran Lebanon itu ditanyai perihal drama penculikannya.

Beberapa laporan menyebutkan, Kopral Wassef dipancing keluar dari markasnya di Bagdad oleh kaum militan, dengan umpan seorang cewek Irak yang diketahui ditaksir sang kopral.

Lewat rekaman video yang disiarkan televisi Al Jazeera, para penculiknya mengancam memancung kopral itu. Dalam rekaman tersebut, tampak Wassef ditutup matanya, sementara seorang militan memegang pedang terhunus.

Belakangan, mungkin karena sama-sama Arab dan muslim, kopral itu dibebaskan oleh para penculik. Nasibnya pun tidak seperti seorang warga Korsel, yang digorok lehernya hingga tewas karena Seoul menolak tuntutan penyandera agar menarik pulang tentara Korsel dari Irak.

"Dia tidur dengan nyenyak. Dia punya semangat yang baik, dan masih mendapatkan pengarahan dari pimpiman militer AS. Dia telah pula menelepon keluarganya di Utah, AS," kata seorang petugas RS Lanstuhl. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA