logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 INTERNASIONAL
Line

Penyebaran AIDS di Asia Kritis

BANGKOK - Negara-negara Asia Pasifik harus bertindak cepat dan penuh tekad untuk memerangi HIV/AIDS. Sebab, penyakit maut itu dapat menghancurkan kemajuan ekonomi dan sosial kawasan tersebut, yang dicapai dengan susah payah dalam beberapa dekade.

Peringatan tersebut dikemukan oleh Sekjen PBB Kofi Annan, pada konferensi AIDS di Bangkok, ibu kota Thailand, Minggu. Konferensi itu diikuti wakil-wakil 34 negara Asia-Pasifik.

Annan mengatakan, Asia berada di titik kritis dalam perjuangan melawan AIDS. Sebanyak 7,4 juta orang di kawasan Asia diketahui telah terinfeksi penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuh manusia itu.

Dari seluruh infeksi baru di dunia, PBB memperkirakan satu dari empat kasus berada di Asia. China, Indonesia, dan Vietnam tercatat sebagai negara-negara yang penyebaran AIDS-nya paling cepat di dunia.

"Kalau tidak dapat ditanggulngi, AIDS bukan hanya akan merenggut jutaan jiwa manusia, tetapi juga menjadi beban berat bagi sistem kesehatan Asia. Akan terkuraslah dana besar yang semestinya untuk pembangunan ekonomi dan sosial," katanya.

UNAIDS, sebuah badan gabungan PBB yang dibentuk untuk mengatasi AIDS, mengatakan Asia - dengan populasi dua per tiga populasi dunia - "punya peluang kecil" untuk mencegah penyakit maut itu merebak.

Sekalipun dari segi persentase tingkat penularan di Asia masih rendah dibandingkan Sub-Sahara Afrika, populasi negara-negara Asia seperti India dan China (masing-masing berpenduduk satu miliar lebih) besar sekali.

Artinya, persentase yang kecil itu dari segi jumlah sebenarnya lebih banyak ketimbang Sub-Sahara Afrika.

Kurang Tertarik

Para pengkritik mengatakan, sayangnya para pemimpin Asia kurang tertarik untuk sungguh-sungguh memerangi AIDS. Contoh, Thailand terpaksa membatalkan KTT Asia tentang HIV/AIDS, karena kebanyakan pemimpinnya menyatakan tidak dapat hadir karena sibuk.

Perdana Menteri Chuna Wen Jiabao mengatakan Sabtu lalu, AIDS telah menyebar ke setiap level masyarakat. Bagi China, katanya mengingatkan, tidak ada jalan lain kecuali berjuang mati-matian memerangi penyakit itu.

Para menteri Asia-Pacific, yang mengikuti konferensi AIDS di Bangkok, diharapkan berjanji menyediakan lebih banyak uang dan menunjukkan kepemimpinan politik yang kuat, setelah konferensi tersebut ditutup (semalam WIB).

Sementara itu, sebuah lembaga PBB yang membiayai perang melawan AIDS menyerukan AS agar cepat memberikan persetujuan bagi diproduksinya obat-obat generik untuk penderita AIDS di negara-negara miskin.

Richard Feachem, direktur eksekutif Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, mengatakan dia berharap US Food and Drug Administration (FDA) memberikan lampu hijau bagi pembuatan obat generik "tiga dalam satu".

Mei lalu, AS mengumumkan suatu skema jalur cepat: generik dari obat-obat paten buatan Amerika agar dimintakan pesetujuan pemakaiannya dari FDA, demi keamanan pemakai dan menjaga kualitasnya.

Langkah itu bakal memungkinkan para pasien AIDS di negara-negara miskin memakai obat-obat generik yang lebih murah, daripada obat-obat paten di negara-negara maju.

Obat-obat gnerik itu takkan dijual di AS demi melindungi obat-obat paten. Dengan obat-obat antiretrovirus generik, yang harganya hanya 140 dolar AS (sekitar Rp 1,3 juta) per pasien per tahun, pasien AIDS di negara miskin amat terbantu.

Bandingkan dengan biaya pengobatan 470 dolar AS (sekitar Rp 4,2 juta) bagi seorang pasien per tahun di negara-negara maju. Maka, isu tersebut pun menjadi topik terpenting pada pertemuan di Bangkok.

Didemo

Di luar gedung tempat konferensi dilangsungkan, sekitar 1.000 aktivis dan pengunjuk rasa melancarkan aksi demonstrasi. Mereka mendesak penyelenggara konferensi itu agar memfokuskan diri pada upaya menyediakan obat murah pada para pasien AIDS.

Para pengunjuk rasa itu melakukan demo duduk di luar arena konferensi, sambil membawa spanduk-spanduk bertuliskan "Akses bagi semua pasien ditolak" dan "Berikan akses bagi semuanya"

"Perusahaan-perusahaan farmasi telah menciptakan bisnis besar yang menguntungkan di atas penderitaan banyak umat manusia," kata Carlos Martel, seorang aktivis dari Honduras.

Craig McClure, penyelenggara konferensi, dan Joep Lange dari organisasi International Aids Society, menemui para pengunjuk rasa. Keduanya menerima petisi yang mengingatkan negara-negara kaya agar memenuhi janji untuk membantu mendanai pengobatan AIDS di negara miskin. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA