| Senin, 12 Juli 2004 | EKONOMI |
Sri Subardana, Perajin Gitar di SukoharjoMerek Diserahkan ke Pemesan dan PembeliMEREK sebuah produk seringkali menjadi masalah. Tak jarang karena merek dipalsukan, pemilik produk asli menggugat melalui pengadilan karena merasa dirugikan. Pihak yang kalah biasanya diminta memasang iklan di media cetak untuk mengakui kesalahan dan minta maaf. Tetapi bagi perajin gitar Sri Subardana merek bukanlah hal yang perlu diributkan. Buktinya, mau diberi merek apa saja gitar produknya ia mempersilakan. Merek yang dilekatkan pada gitar buatannya diserahkan kepada tengkulak atau toko yang membeli. "Yang penting pesanan lancar dan ada untungya sehingga usaha saya bisa jalan terus," tuturnya. Usaha yang ditekuni sejak tahun 1999 itu memang tidak begitu besar. Tetapi dia bersyukur karena selain bisa membantu pendapatannya sebagai guru SMK I Klaten, dapat memberikan pekerjaan kepada tetangganya. Tak kurang 16 pemuda tetangganya mencari rezeki bekerja membuat gitar di rumahnya. Selain di bengkel miliknya, pembuatan gitar dilakukan di rumah para tetangga dengan sistem borongan. Sebulan dia dapat memproduksi 60 dosin aneka macam gitar mulai yang termurah hingga termahal. Sebuah gitar paling sederhana atau disebut gitar sayur harga yang dipatok Rp 660.000/dosin, sedangkan yang termahal Rp 1.020.000/dosin. Pembeli gitar produksi Sri Subardana umumnya tengkulak atau pemilik toko di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Biasanya mereka membeli dalam jumlah besar. Tiga Kali Ada yang datang langsung ke rumahnya di Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Tetapi ada pula yang memesan melalui telepon. Begitu memperoleh pesanan melalui telepon, barang dikirim dan uang ditransfer melalui bank. Di tangan para tengkulak atau pemilik toko itu harga barang menjadi dua atau tiga kali lipat dari harga asalnya. Umumnya para pemilik toko atau tengkulak memesan dalam bentuk setengah jadi. Gitar-gitar itu dikirim dalam bentuk belum dilengkapi senar dan aksesoris. Warna-warna cat yang indah menghiasi gitar-gitar itu sehingga menarik pembeli. Alat musik itu dibuat dari bahan baku kayu waru, mahoni, dan tripleks. Mahal atau murahnya ditentukan oleh tingkat kesulitan pembuatan dan bahannya. Pada gitar-gitar jenis sayur stangnya dibuat dari kayu waru sehingga harganya lebih murah. Di bengkelnya pekerja tinggal merakit komponen yang telah dibuat para ahlinya. Pekerjaan yang diselesaikan di rumah masing-masing pekerja secara borongan berupa komponen-komponen. Ada yang khusus mengerjakan stang, ada pula yang mengerjakan gembung atau bagian bawah gitar yang bentuknya besar. Saat-saat setelah Lebaran adalah saat menggembirakan bagi bapak dua anak itu. Ketika itulah omzet penjualan meningkat. "Saya tidak tahu mengapa begitu. Bertahun-tahun begitu usai Lebaran penjualan pasti meningkat," tuturnya. Sebagaimana pemilik usaha lainnya, lelaki itu juga ingin penghasilannya meningkat. Peningkatan penghasilan terutama harus dilakukan lewat penambahan modal. Itulah yang masih menjadi ganjalan sehingga sampai kini usahanya hanya beromzet sekitar Rp 35 juta/bulan. Modal sebesar itu amat terasa membatasi geraknya, terutama ketika pembayaran dari pemesan terlambat sampai berbulan-bulan. Kadang-kadang pembayaran memang dilakukan oleh pemesan dalam waktu dua minggu. Namun tak jarang ada yang sampai tiga bulan. Ia punya obsesi kelak usahanya harus bisa seperti pabrik. Ia ingin semua dikerjakan di dalam pabriknya sehingga pengawasan betul-betul dilakukan. Dengan cara sebagaimana sekarang komponen-komponen yang dikirim kadang-kadang kurang bagus kualitasnya. "Kalau semua bisa dikerjakan di pabrik, maka kualitas akan lebih bagus karena bisa langsung diawasi," ujarnya. (Subakti A Sidik-53) |