| Senin, 12 Juli 2004 | EKONOMI |
Toyota Naikkan Harga Kendaraan Produksinya
SEMARANG-Per 1 Juli 2004 harga seluruh kendaraan baru produksi Toyota dinaikkan maksimal 2% dari sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan harga pelat baja di atas 50% sejak awal tahun ini, di samping kemelemahan rupiah di atas Rp 9.000/dolar AS. "Kenaikan harga pelat baja sangat berpengaruh terhadap biaya produk mobil, sehingga keputusan menaikkan harga merupakan langkah yang mau harus dilakukan. Sebelumnya produsen sudah berusaha untuk menahan harga," kata Fatrijanto, Managing Director Nasmoco Group sebagai dealer resmi Toyota di Jateng/DIY di kantornya Jalan Pemuda Semarang, kemarin. Menurut dia, kenaikan harga pelat baja itu membuat semua pabrikan otomotif menaikkan harga jualnya. Namun dibandingkan dengan kenaikan harga pelat baja yang 50% lebih kenaikan harga mobil terhitung sangat kecil karena hanya sekitar 2%. Dicontohkan mobil buatan Toyota, misalnya sedan Vios naik Rp 3 juta, sedan New Corolla Altis naik Rp 2 juta, dan truk Dyna naik Rp 3 juta/unit dari sebelumnya. "Khusus Toyota Avanza kenaikannya Rp 2 juta/unit, tetapi diberlakukan secara bertahap mulai Rp 500.000," ujarnya. Pihaknya tidak mengkhawatirkan kenaikan harga itu berdampak terhadap daya beli kendaraan, karena persentase kenaikan yang diterapkan produsen kecil. "Justru sebaliknya tahun ini pasar mobil di Jateng dan DIY akan tumbuh paling pesat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," tandasnya. Lebih Baik Ia berpendapat prediksi tentang kekhawatiran pertumbuhan ekonomi akan mengalami masalah sepenuhnya tidak benar. Indikator itu setidaknya tercermin pada permintaan otomotif yang tinggi dua tahun terakhir. "Secara keseluruhan dari kaca mata pebisnis otomotif perekonomian nasional dan Jateng jauh lebih baik daripada ketika saat krisis dulu," ujarnya. Tahun ini, kata dia, pasar mobil nasional diprediksi akan mencapai 400.000 unit, sedangkan di Jateng 29.000 unit atau naik 19% dari tahun 2003. Hingga Mei lalu angka penjualan di Jateng sudah mencapai 11.900 unit, sedangkan Mei tahun lalu 9.100 unit atau naik 31%. Indikator kegiatan usaha yang membaik, menurut dia, juga terlihat pada penjualan kendaraan niaga berupa truk yang naik tajam. Itu mencerminkan ada kegiatan usaha dan berarti kegiatan ekonomi khususnya sektor riil sudah berjalan. "Contohnya penjualan truk 2 ton yang naik 9% menjadi 1.730 unit dibandingkan dengan tahun lalu yang cuma 1.585 unit. Jadi kalau dibilang bisnis belum bergerak maka saya tidak setuju," tegasnya. Khusus kendaraan buatan Toyota, kata dia, semua pembeli harus inden. Permintaan yang diperkirakan stagnan ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Perkiraan itu didasarkan oleh kegiatan politik berupa kampanye dan pemilu yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap penjualan mobil. Sampai Mei 2004 pasar Toyota mencapai 3.470 unit atau 29,1% dari total pasar mobil di Jateng/DIY. "Kijang baru yang akan diluncurkan Agustus nanti indennya sangat banyak, tetapi angkanya belum bisa kami sebutkan." (G2-53) |