logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 EKONOMI
Line

Prediksi Bursa di Antara Dua Putaran Pemilihan Presiden

KAJIAN terhadap suatu peristiwa telah banyak dilakukan baik peristiwa dalam negeri maupun yang terjadi di luar negeri. Para peneliti umumnya sepakat kajian terhadap suatu peristiwa dengan sebutan event study. Mereka membagi hari-hari penelitiannya dalam tiga kelompok: (1) kisaran hari sebelum peristiwa (pra event), (2) hari H peristiwa (event), dan (3) kisaran hari sesudah peristiwa (post event).

Kajian yang dilakukan pada peristiwa di luar negeri, misalnya, tentang perkembangan bursa regional oleh peristiwa pengunduran diri Perdana Menteri Jepang N Takeshita. Demikian pula kajian tentang pengaruh peristiwa tragedi peneboman WTC di AS 11 November 2001 terhadap perkembangan bursa efek regional serta Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Terhadap peristiwa yang terjadi di Indonesia telah dilakukan kajian peristiwa seputar pergantian Presiden Soeharto pada tahun 1998 dan pengaruhnya terhadap bursa saham. Juga peristiwa tentang pergantian Presiden Abdurrahman Wahid melalui Sidang Istimewa MPR pada pertengahan tahun 2001.

Hasilnya menunjukkan umumnya ditemukan hari-hari dari peristiwa yang mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap perkembangan bursa, baik pada kisaran sebelum hari H dan sesudahnya.

Namun demikian ada perbedaan hasil di antara kajian pada peristiwa, yaitu tentang hari yang signifikan pengaruhnya terjadi pada hari ke berapa sebelum peristiwa dan hari sesudah peristiwa. Pada kajian sebelumnya pengaruh positif pernah terjadi mulai 2 hari sebelum hari H dan sehari sampai 2 hari sesudah peristiwa.

Periode pengamatan pada pengkajian suatu peristiwa umumnya menggunakan kisaran waktu 10 hari atau 15 hari sebelum peristiwa dan kisaran waktu 10 atau 15 hari sesudah peristiwa terjadi. Periode pengamatan dalam kisaran waktu yang demikian pendek dengan pertimbangan secara tidak langsung berarti telah berusaha mengeliminasi pengaruh dari faktor lainnya terhadap suatu peristiwa yang sedang dikaji.

Bagaimana kajian peristiwa pengaruh dari pemilihan presiden tahun 2004 terhadap pengembangan BEJ? Pada pemilihan presiden kali ini ditandai oleh dua peristiwa, yaitu pemilihan presiden putaran pertama 5 Juli dan putaran kedua 5 September 2004.

Pemlihan presiden putaran pertama telah berlangsung aman. Pada kisaran sebelum hari H pemilihan pada putaran pertama terjadi kinerja yang signifikan pada BEJ. Pada hari bursa sehari sebelum peristiwa (2 Juli) indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik dari posisi 729,8 menjadi 745 atau keuntungan pasar naik sebesar 2,1%.

Antisipasi Awal

Meskipun peristiwa belum terjadi tetapi pasar sudah bereaksi positif sebagai sinyal optimisme pasar. Jika pasar meyakini suatu peristiwa positif maka sebelum peristiwa itu terjadi sudah akan mengantisipasi lebih awal.

Memasuki hari pertama sesudah pemilihan presiden putaran pertama berlangsung, sesuai dengan harapan pasar indeks naik dari posisi 745 menjadi 768 atau meningkat 3,1%. Dua hari sesudah hari H pasar masih bereaksi positif yang ditandai oleh kenaikan indeks dari posisi 768 menjadi 771,9.

Namun memasuki hari ketiga IHSG turun dari 771,9 menjadi 759,7 atau 1,6%. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh koreksi pasar dari kenaikan sebelumnya sebesar 5,2% yang terlalu tinggi. Juga bersamaan dengan penurunan bursa global, terutama Nikkei (-0,6%) dan Hang Seng (-1,6%). Hari berikutnya indeks kembali naik tipis dari 759,7 menjadi 761,1.

Periode antara pemilihan presiden putaran pertama sampai kedua berlangsung sekitar dua bulan. Gambaran pemerintahan masa depan yang demokratis dan lebih baik sudah di depan mata para pelaku pasar. IHSG akan menuju level 800-an.

Namun masih ada jalan yang wajib dilalui untuk menuju ke sana. Jalan tersebut bukan bebas hambatan dan rintangan. Selama masa penantian banyak pelaku pasar yang bersikap wait and see. Berita baik dan buruk akan datang silih berganti.

Dengan demikian perkembangan bursa akan naik-turun seirama dengan kedatangan berita baik atau buruk. Berita yang berasal dari dalam negeri seputar pemilu akan mewarnai perkembangan bursa. Segala macam berita yang tergolong ancaman terhadap kesuksesan pemilu ditangkap oleh pelaku pasar sebagai berita buruk. Sebaliknya, semua berita yang menggambarkan sukses pemilu pada putaran kedua akan ditangkap oleh pelaku pasar sebagai berita baik.

Dari dalam negeri akan muncul berita baik sekitar informasi laporan keuangan perusahaan yang membaik serta seputar aksi korporasi berupa stock split (pemecahan saham) oleh beberapa perusahaan. Misalnya berita Telkom yang akan merencanakan stock split 1:2, artinya satu saham lama dipecah menjadi 2 saham baru.

Stock split berarti harga baru sahamnya lebih murah. Harga yang murah dan terjangkau akan mendorong pembelian meningkat. Dampaknya, harga saham berikutnya berpotensi menciptakan keuntungan. Keterjangkauan harga oleh calon investor berarti juga sebagai upaya melapangkan jalan pemerataan berinvestasi.

Jika kondisi aman maka sepuluh hari sebelum pemilihan presiden putaran kedua, terutama sehari atau dua hari sebelumnya dapat terulang kejadian pasar bereaksi positif. Pembelian saham sesudah pemilihan presiden putaran kedua berlangsung berarti investasi yang tak optimal dan bagai ketinggalan kereta.(Dr Sugeng Wahyudi, dosen Fakultas Ekonomi Undip-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA