| Senin, 12 Juli 2004 | BUDAYA |
Lelaki di Balik Panggung VokalDI sebuah kafe suatu malam, cerita mengenai pembinaan vokal dari anak-anak hingga orang dewasa meluncur deras dari mulut Ariyadi (43) yang ditemui di kediamannya Jalan Tlogosari Raya I/24. Dengan tanpa nada berbangga diri, lelaki itu juga bercerita bahwa Sekolah Menyanyi Ariyadi di Semarang yang dibangunnya menjadi satu-satunya sekolah khusus menyanyi setelah Bina Vokalia Pranajaya di Obor Mas, Jakarta. Dan lihatlah bagaimana matanya berkilat ketika dia mengungkapkan obsesinya untuk mendirikan Akademi Musik dan Vokal di Indonesia. Siapa lelaki obsesif itu? Seperti telah disebut, namanya Ariyadi, kelahiran Semarang, 23 Oktober 1961. Bukan nama yang akrab di telinga ketika kita memperbincangkan dunia musik atau dunia nyanyian di Semarang. Sejak awal 1980-an, kiprahnya melatih vokal telah membuahkan banyak penyanyi. Sebagian besar adalah para vokalis kafe atau pub, dan sebagian kecil lainnya malah punya nama di tataran regional atau bahkan blantika panggung hiburan nasional. Catatan awalnya bisa dibuka sebelum dia mendirikan sekolah menyanyi di tahun 1994 di rumahnya. Dia telah melakoni dirinya sebagai penyanyi dan presenter. Sekolah yang didirikannya itu pun sebenarnya bukan sebuah gedung khusus, melainkan hanya beberapa ruangan. Dia juga tak secara khusus mempromosikan sekolah itu. "Lebih banyak pakai cara gethok-tular. Seseorang saya bina vokalnya, ikut lomba nyanyi, lalu jadi juara. Orang tanya pada yang juara di mana belajar vokalnya." Kehabisan Waktu Tapi dengan cara seperti itu, Ariyadi bahkan mengaku kehabisan waktu. Peminatnya tak sedikit. Apalagi memang pelatihan vokal selama ini dijalankan secara privat atau les intensif seorang demi seorang. Dan meskipun namanya sekolah menyanyi, kelas yang dibuka pun sifatnya bukan klasikal, tapi privat. Gambaran itu memberi bukti betapa ada ketertarikan besar di masyarakat untuk berlatih vokal. Apalagi sekarang ini, ketika ajang-ajang pencarian bintang seperti AFI, KDI, Indonesian Model, dan beberapa lagi lainnya membuka peluang bagi siapa pun untuk mengukir nama sebagai penyanyi. "Sebenarnya, jauh sebelum ada AFI atau Indonesian Model, sudah banyak orang yang tertarik dari kanak-kanak hingga orang-orang yang telah lanjut usia. Para pengusaha dan pejabat pun begitu. Untuk yang terakhir, tujuannya tentu saja bukan untuk lomba tapi ya untuk tampil kalau lembaga atau perusahaannya bikin acara seremonial." Tak pelak lagi, nama Ariyadi yang tak terbaca secara umum dikenal di kalangan elite Kota Semarang. Beberapa pejabat teras di jajaran provinsi berikut para istrinya berlatih vokal pada dia. "Melatih vokal yang orang tua lebih sulit daripada yang masih muda atau kanak-kanak," katanya seraya mengatakan dalam melatih aspek psikologis yang dilatih menjadi bahan acuan pertama sebelum menempa vokal yang bersangkutan. Begitulah Ariyadi, setia pada profesinya dan selalu ingin belajar. Mau bukti? Dia bahkan rela belajar ke Bertha, Ubiet, atau Trie Utami di Jakarta meskipun harus mengeluarkan kocek tak sedikit.(Saroni Asikin-81) |