| Senin, 12 Juli 2004 | BANYUMAS |
Waspadai Wabah Penyakit TeteloPURWOKERTO - Memasuki pergantian musim hujan ke musim kemarau ini wabah penyakit tetelo pada ayam perlu diwaspadai. Penyakit jenis ini biasanya menyerang saat terjadi musim pancaroba. Sasaran penyakit itu paling banyak ayam kampung. Musim seperti ini berlangsung Juli - September. Dinas Peternakan Pemkab Banyumas dan pihak Posko Ayam Indonesia (PAI) wilayah Jateng selatan jauh-jauh hari sudah mengeluarkan imbauan kepada kalangan peternak ayam ras dan ayam kampung untuk mewaspadai wabah penyakit tersebut. Meski tidak sehebat saat terjadi wabah flu burung, penyakit sejenis itu bila tidak ditangani secara serius tingkat penyebarannya juga tergolong cepat. Kepala Subdinas Peternakan Ir Sugiatno MM, kemarin mengatakan, penyakit tetelo biasanya banyak menyerang ayam kampung. Sebab peternakan ayam sejenis ini biasanya jarang ditangani secara matang seperti model peternakan ayam ras. ''Sejauh ini memang belum ditemukan kasus kematian ayam yang menonjol dari penyakit ini. Tetapi tetap harus diwaspadai. Sebab saat pergantian musim seperti ini biasanya ayam tidak tahan terhadap perubahan cuaca,'' ujarnya. Dia menjelaskan, tingkat kematian ayam kampung akibat penyakit tetelo di bawah 10% dari keseluruhan populasi ayam kampung, sekitar 1,5 juta ekor. Dibandingkan dengan saat terjadi wabah flu burung beberapa waktu lalu, jumlahnya masih relatif sedikit. ''Saat itu ayam kampung yang ikut terserang flu burung mencapai 25%. Sekarang menurun karena masih terkena pengaruh dari kegiatan vaksinasi yang sudah dilakukan sebelumnya,'' katanya. Penasihat PAI Wilayah Banyumas, Agus mengatakan, ayam ras khususnya petelur, penyakit yang saat ini banyak menyerang adalah jenis coryza (pilek), newcastles disease (ND), atau tetelo, Infeksius broonkitis (IB), atau pernapasan. ''Dari populasi sekitar 1,2 juta ekor ayam yang dikelola oleh sekitar 300 peternak di wilayah eks Karidisidenan Banyumas plus Bumiayu (Brebes), tingkat kematian kurang dari 2%. Ini berkat penanganan yang intensif dari kalangan peternak itu sendiri,'' ujarnya. Agus megatakan, dampak dari wabah flu burung sampai saat ini masih terasa. Minat masyarakat untuk beternak ayam ras sekarang menurun. Yang masih bertahan kebanyakan peternak-peternak lama. ''Harga bibit ayam sekarang juga naik cukup tinggi. Setiap ekor ayam umur satu hari bisa mencapai Rp 4.000. Padahal sebelumnya harganya Rp 500 - Rp 1.000 per ekor. akibatnya, tingkat populasinya juga turun,'' ujarnya. (G22-76n) |