logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 BANYUMAS
Line

Kesenian Golek Gendong Meriahkan Pawai Budaya

PURWOKERTO-Pawai budaya yang digelar Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB), kemarin, berlangsung meriah. Ribuan warga menyaksikan acara yang menampilkan wakil-wakil dari 25 dewan kesenian kecamatan (DKKc) dan 13 dinas tersebut.

Pelepasan peserta dilakukan Bupati Banyumas HM Aris Setiono SH SIP di Alun-alun. Acara itu dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Santoso SH dan Kepala Dinas Pertanian Ir Djoko Wikanto dan beberapa pejabat Pemkab.

Kesenian yang ditampilkan tiap-tiap kecamatan beragam. Kecamatan Kebeasen, misalnya, tampil dengan kesenian golek gendong.

Yaitu orang membopong patung, tetapi patung itu tangannya memegang pantat pembopongnya, sehingga yang tampak seolah-olah patung mengendong orang.

Kecamatan Patikraja menampilkan Batik Banyumasan. DKKc lainnya membawakan kesenian seperti cowongan, ujungan, sintren Banyumasan, ebeg, gebrag lesung, rengkong, begalan, golek gendong, macapat, rodat, begalan serta kentongan. Hampir setiap kecamatan menampilkan musik kentongan.

Untuk kesenian yang tak bisa dimainkan dengan berjalan kaki, seperti macapat, sintren, gebrag lesung, peserta berpawai naik kendaraan bak terbuka. Rute kirab adalah Alun-alun, Jl Masjid, Jl Jendral Gatot Soebroto dan finish di Jl Merdeka, sekitar 2 km.

Sentra Budaya

Ketua Panitia Iksanto mengatakan pawai ini salah satu program utama DKKB, untuk menggali potensi seniman Banyumas. Sejak kirab I tahun lalu, pihaknya optimistis Banyumas bisa menjadi salah satu sentra budaya.

Selain karena daerah itu gudang seniman-seniwati, juga karena Pemkab dan DPRD menganggap seniman sebagai mitra. ''Ini kami rasakan dengan adanya perhatian dan kucuran dana APBD,'' katanya.

Bupati Aris mengatakan di negara maju, seni dan budaya tradisional dikemas dengan baik dan profesional.

Ternyata bisa dikembangkan menjadi sebuah produk kesenian yang bisa ''dijual'' dan memberi nilai ekonomi tinggi.

''Inilah yang harus dikembangkan, agar seni dan budaya Banyumas tidak sepi dari inovasi.''

Ketua DKKB Bambang Set menjelaskan kesenian yang ditampilkan DKKc itu sudah lama sekali tak ditampilkan di tengah masyarakat.

Pada pawai tahun lalu, banyak orang menganggap kesenian itu seperti dari planet lain, karena begitu merasa asing, padahal asli Banyumas. ''Kirab ini untuk menunjukkan bahwa itu budaya asli kita,'' katanya. (bd-20)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA