logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juli 2004 BANYUMAS
Line

Pelaku Teror Ceceran Darah Sulit Diindetifikasi

MAJENANG-Hingga kemarin pelaku teror yang menebar ceceran darah misterius di perkampungan Dusun Jayanti Desa Malabar Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap masih sulit diidentifikasi. Pihak kepolisian, kecamatan, dan desa belum bisa menemukan tanda-tanda atau jejak pelaku.

Pelacakan itu sulit karena bukti yang ditinggalkan pelaku tidak kuat, hanya ceceran darah misterius yang belakangan diketahui ternyata warna darah tersebut berasal dari campuran zat kimia (pewarna) (SM, 10/7). Pelaku juga tidak meninggalkan jejak baik kaki maupun telapak tangan. Maklum saat ini daerah pegunungan itu sedang memasuki kemarau.

Kapolres Cilacap AKBD Drs Prasta Wahyu Hidayat melalui Kapolsek Wanareja Ipda Umum kemarin kepada wartawan mengatakan, sejauh ini pelaku teror belum teridentifikasi. Namun, polisi terus melakukan penyidikan dan mengembangkan informasi di masyarakat.

''Sejauh ini belum ada perkembangan yang jelas. Kami masih menyelidiki. Kalau tertangkap pelakunya bisa diancam melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Warga yang melihat ada yang mencurigakan bisa langsung melakukan penangkapan atau melapor kepada polisi,'' ujar Umun.

Menurut Kapolsek, kemungkinan pelaku dari daerah setempat atau sekitar desa juga belum ada tanda-tanda yang jelas. Namun, lanjut dia, dirinya curiga hal itu dilakukan oleh kelompok-kelompok penganggur. Kebetulan daerah Wanareja bagian utara yang menggangur banyak.

Bripda Sukamto, petugas jaga di Mapolsek Wanareja kemarin juga mengakui hal itu. Untuk mengusut kejadian tersebut jajaran Intelkam Polres juga melakukan penyidikan.

Untuk mengungkap kasus yang membuat resah warga Cilacap bagian barat itu juga telah diterjunkan petugas-petugas khusus. Termasuk menyebar informan di sejumlah desa sekitar.

Menurut keterangan Bambang Tolibi, petugas Bagian Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Kecamatan Wanareja, setelah kejadian tersebut kini kegiatan patroli gabungan dan keamanan swakarsa dari warga ditingkatkan.

Bambang mengatakan, ada dua pendekatan yang dilakukan terhadap warga. Pertama, pendekatan keamanan dan bimbingan spiritual. ''Bimbingan spiritual lewat pengajian-pengajian dilakukan untuk menepis isu negatif yang banyak dikaitkan dengan hal-hal gaib yang sengaja ditebarkan pelaku, seperti hantu pocong dan nyupang untuk mencari pesugihan. Isu ini masih menjadi perbincangan warga,'' lanjut dia.(G22-20e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA