logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 11 Juli 2004 PEMILU 2004
Line

CC 200, Loko Diesel Pertama di Indonesia (2-Habis)

Kalau Trouble, Hanya Bisa Diperbaiki 4 Teknisi

NASIB lokomotif tua, kalau tidak menjadi ìpanciî (istilah untuk dilebur), ya diparkir menjadi tontonan masyarakat untuk mengingat masa lalu seperti halnya di Museum KA Ambrawa atau Museum Transportasi di TMII Jakarta. Padahal akan lebih menggigit kalau ìmasa laluî itu masih bisa dirasakan lagi, tak hanya ìwujudnyaî.

Memang suasana serupa bisa dilakoni di Ambarawa. Bagi yang ingin merasakan nikmatnya menaiki kereta api uap, disarankan ke sana untuk merasakan bagaimana keindahan jalur Ambarawa-Bedono.

Belum lagi treknya yang bergerigi, anak-anak sekitar trek yang berlori di ìgerigiî itu, plus bau khas hasil pembakaran dari cerobong loko. Tapi, bagaimana kalau keindahan itu dirasakan pula saat melalui jalur-jalur reguler. Bisa saja, toh PT KA punya kereta-kereta khusus wisata macam Toraja. Tergantung pesanan, maka meluncurlah KA tersebut.

Tapi bicara ìrasaî, bukankah rangkaian wisata itu ditarik oleh loko masa kini yang berjenis diesel seperti halnya menarik Argo Bromo, Muria, Lawu dan sebagainya. Kalau waktu memungkinkan, rasa itu sedikit beda saat yang menarik kereta itu adalah CC-200. Nah ini pula yang menjadi cita-cita program Friends of CC-200.

Dari 3 unit yang tersisa, satu Loko CC-200 No Badan 15 sudah bisa diajak wara-wiri dalam jarak pendek. Meski untuk itu, komponen Loko CC-200 No 09 harus rela dikanibal untuk No 15 dan selanjutnya bakal dipajang di Ambarawa atau TMII. Sedangkan CC-200 No 08, masih ada kemungkinan untuk ìdihidupkanî hanya tinggal membutuhkan beberapa suku cadang.

Soal suku cadang memang repot. Kendati sudah bisa melaju, CC-200-15 masih rentan pada silindernya. Karena kalau dipaksakan berjalan jauh, ada salah satu bagiannya yang diakali dengan ìplastik metalî, bakal jebol. Bilapun ingin mendatangkan suku cadang yang gres, harganya tidak murah.

Menurut Widoyoko, Koordinator IRPS, satu harga silinder mesin CC-200 adalah 2.500 dollar AS, kalau ingin sempurna jelas harus diganti ke-12 mesin silindernya yang berbentuk V itu. ìDan belinya di India,î katanya.

Selain itu, teknisi yang bisa menanganinya pun jumlahnya terbatas. Tak lebih dari 4 orang, dan semuanya berdomisili di Cirebon karena kabarnya dulunya kereta ini banyak ditempatkan di sini.

ìSebenarnya, kalau menjalakannya, semua masinis yang ada bisa. Tapi kalau sudah harus turun mesin, ada kerusakan, ya paling hanya empat orang termasuk saya,î kata teknisi CC-200, Sukarsa.

Sukarsa mengaku gembira dengan diaktifkannya kembali CC-200. Karena dengan itu, salah satunya, dia bisa mengenang ketangguhan loko diesel pertama di Indonesia ini.

ìKata orang dulu, masinis pada waktu itu suka balap, yang satu ke Semarang satunya lagi ke Purwokerto saat diberangkatkan dari Cirebon. Cepet-cepetan nyampe, apalagi nariknya kereta utama. Habis, lajunya kereta ini stabil dan bisa dibandingin dengan loko diesel yang ada sekarang,î kata Sukarsa.

Karena kondisinya belum 100 persen sempurna, kata Sukarsa, saat ini loko tersebut hanya bisa diajak narik untuk mengambil setoran di stasiun-stasiun antara Cirebon-Tanjung Rasa (dekat Cikampek). Frekuensinya pun, sepuluh hari sekali.

Entah kalau sudah benar-benar prima, CC 200 sepertinya bakal menarik jumlah uang yang lebih dari itu hasil setoran itu dan jaraknya menjelajahnya pun makin jauh, dengan tak lupa menawarkan masa lalu yang kedengarannya selalu indah. (Setiady Dwie-78)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA