| Minggu, 11 Juli 2004 | BINCANG BINCANG |
Terdampar sebagai PenelitiANDA barangkali akrab dengan istilah Quick Count selama pemilu berlangsung. Metode berupa proses pengumpulan informasi oleh ribuan relawan melalui pemantauan langsung saat pemungutan dan perhitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) itu memang sekarang jadi primadona. Namun, apakah Anda juga mengenal sosok yang berperan penting dalam metode quick count? Apakah Anda mengenal Program manager Quick Count? Dialah Ir Muhammad Husain. Yang lebih mengejutkan pria ini sangat mengenal Semarang. Ya, karena beristrikan orang Semarang asli, saat diwawancarai, Husain fasih mencontohkan segala sesuatu yang berbau Semarang. "Bojoku iku asli Sema-rang, alumnus Fakultas Hukum Undip," kata dia dengan logat Sulawesi saat menerangkan tentang istrinya, Diah Kartika Ratri (39). Masa lalu pria kelahiran Watampone Sulawesi Selatan 28 Februari 1964 tersebut "biasa-biasa" saja. Namun, dia selalu berprestasi di sekolah. Dari lahir sampai SMA, dia tinggal di tanah kelahiran, Watampone. Kalaupun bepergian sejauh-jauhnya hanya di sekitar Sulawesi. Selepas SMA barulah dia "keluar sangat jauh"' dari tanah kelahirannya. Pasalnya, pria berkacamata ini diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat lulus kuliah pada 1987, dia kemudian bergabung dengan LP3ES. "Saya oleh banyak orang dikira kuliah di Statistik IPB, karena sejak jadi peneliti sering berkecimpung di statistik. Padahal, saya kuliah di Jurusan Teknologi Industri Pertanian." Walaupun sejak di SD sampai kuliah Husain mengaku senang pada matematika dan statistik, tetapi dirinya malah ingin bekerja di luar bidang pengajaran (dosen) serta penelitian. "Sebetulnya saya ingin bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang pangan. Atau jadi seorang manajerlah. Itu keinginan awal. Namun, sekarang saya justru terdampar jadi peneliti. He he he. Dan sekarang saya mesti meneliti dengan menggunakan quick count yang dicurigai jadi pengacau perhitungan resmi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), " katanya. Saat ditanya mengenai suka duka sebagai peneliti, Husain mengatakan banyak senangnya. "Ya sukanya memang 'kecil-kecil', tetapi banyak. Dukanya sedikit, tetapi langsung besar," kata ayah anak semata wayang bernama Rizal Hanif Husain (8) ini. Menurut pendapat dia, peneliti itu bahagia jika bisa segera menjadi quick learner atau orang yang belajar dengan cepat atas sesuatu yang baru. "Awalnya ya merasa berat juga. Makin lama enak juga, karena penuh tantangan. Akhirnya saya juga menemukan cara pas untuk belajar cepat. Sayang, hal ini sulit diterangkan kepada orang lain," katanya. Hidup sebagai peneliti ada dukanya juga. Hal itu akan muncul jika dia dan tim dituduh melakukan penelitian untuk tujuan "mengacaukan" kebenaran. Namun, hal itu lebih dilihatnya sebagai resiko. "Kalau kami dianggap 'mengada-ada' atau hanya mejalankan pesanan kekuatan pihak tertentu, ya silakan saja mereka ngomong begitu. Namun, kalau ternyata hasil yang kami publikasikan hanya beda tipis dari hasil resmi yang diumumkan, ya cabut dong tuduhan mereka. Atau lebih baik lagi kalau mereka minta maaf kepada kami. He he he," katanya. (Hartono Harimurti-72) |