logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Juli 2004 SEMARANG
Line

Kunyit, Makin Kering Makin Mahal

MENYUSURI jalan pedukuhan Desa Kebonbatur hingga Desa Banyumeneng, Mranggen, Demak, pada musim kemarau kali ini, ibarat menikmati hamparan rempah. Hampir pada setiap halaman rumah, tepi jalan kampung, sudut gang, hingga halaman balai desa terhampar baki-baki bambu penuh irisan kunyit (Curcuma domestica) yang mulai mengering.

Musim kemarau tahun ini membawa makna tersendiri bagi ratusan petani kunyit di Kebonbatur. Terik matahari tidak hanya membuat jemuran kunyit cepat mengering, tetapi juga mendongkrak harga pasaran dari Rp 5.000/kg menjadi Rp 6.500/kg. Harga itu jauh lebih tinggi dibanding harga jual di tingkat petani pada tahun lalu Rp 3.000/kg.

Lonjakan harga kunyit kering tak urung membuat petani yang juga menanam jagung dan kacang hijau itu menaguk keuntungan ganda. Sebagian warga kampung mengatakan kunyit tidak hanya dipasarkan di Semarang. Sejumlah perusahaan jamu, minuman kemasan, dan pewarna makanan di daerah Solo, Wonogiri, bahkan Sidoarjo disebut-sebut sebagai pabrikan yang menyerap umbi rimpang hasil panen petani.

Bulan-bulan sekitar Juni hingga September merupakan masa panen kunyit. Istimewanya, kunyit dapat ditanam bersamaan dengan palawija lain seperti kacang hijau atau jagung. ''Pada bulan Oktober, petani mulai labuh (menanam,red). Beberapa minggu kemudian baru biji jagung ditebarkan dalam komplong yang sama,'' tutur Sapuan, salah seorang tengkulak.

Hal itu pula yang membuat warga tidak segan menanam kunyit sebagai tanaman sela di sawah atau pekarangan. Meski sudah berjalan 15 tahun, menurut Muftianah, baru tahun ini pasaran kunyit mencapai harga terbaik.

Lebih Mahal

Apa yang dikatakan Muftianah bukan isapan jempol. Pedagang yang datang satu minggu sekali berani membeli kunyit kering dengan harga mulai Rp 6.000-Rp 6.500/kg. ''Bandingkan dengan harga kacang hijau yang hanya Rp 4.000/kg atau gabah Rp 1.250/kg.''

Menurut Sapuan, seorang tengkulak, kalau umbinya besar dan proses pengeringannya bagus, warna kunyit terlihat cerah dan tidak menghitam. Untuk kualitas yang seperti itu, kami berani membeli hingga Rp 6.500/kg,'' ungkapnya.

Bersama sekitar 50-an pedagang kecil dan lima tengkulak besar di desanya, Sapuan setiap hari berkeliling membeli kunyit kering milik petani. Dua sampai tiga kali seminggu, dia menyetorkan dagangannya kepada tengkulak besar di Kecamatan Mranggen. Jumlahnya mencapai 3-7,5 kw setiap kali setor.

Kendati sampai saat ini belum ada koperasi yang mengatur pemasaran kunyit, sejumlah petani mengaku tidak keberatan dengan keberadaan para tengkulak. Dalam bahasa mereka, para tengkulak dan petani sama-sama menikmati keuntungan. ''Kami langsung dibayar begitu barang dibeli,'' jelas Annisa.

Sistem itu bertolak belakang dengan kebiasaan pedagang atau tengkulak tembakau yang menunda pembayaran sampai mendapatkan dana dari pabrikan. Jika petani tembakau acap hanya mendapatkan girik (kupon pembayaran, red), petani kunyit dapat langsung menikmati hasil panennya. ''Petani tidak mendapat girik (kupon, red), tetapi uang kontan,'' ujar Sapuan.

Sebagai pedagang kecil, Sapuan mengaku mendapat suntikan modal dari pedagang besar yang bertindak sebagai pengepul. Mirip dengan dia, pedagang besar itu pun medapat pinjaman modal dari perusahaan. Tidak heran, para petani merasa belum membutuhkan jasa koperasi atau kredit perbankan. (Ninik D-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA